Malam ini saya
putuskan untuk menuliskan sepucuk surat ini padamu Ayah. Bertahun-tahun
lamanya saya hidup dalam kegelisahan yang tak kunjung reda
karena ada segumpal perasaan menyesakkan dada ini. Saya pikir
menuliskannya dalam untaian kata adalah cara tepat saya bisa membagi perasaan ini
padamu Yah. Saya memang tidak bisa menceritakannya langsung di
hadapanmu. Lidah ini pasti terasa kelu tanpa kata-kata yang bisa terucap
walaupun dada ini sesak penuh rasa.
Ayah…, mengingatmu
dalam masa-masa kecil saya terasa menyenangkan walaupun ada kenangan pahit
yang saya rasakan juga. Masih ingatkah
waktu dulu Ayah mengajari saya sepeda mini yang kita temukan sama-sama
di gudang rumah kakek? Ayah tentu masih ingat. Kenangan itu masih
melekat erat dalam jiwa saya. Ayah telah berusaha keras untuk menyulap sepeda yang
usang itu menjadi sepeda mini paling bagus yang pernah saya miliki, Ayah
mengganti tempat duduk
sepeda itu dengan warna merah menyala sehingga membuat saya begitu
bersemangat untuk menaikinya. Jatuh bangun saya berusaha untuk menguasai
sepeda itu, namun sayang saya masih belum berhasil, tapi Ayah melihat
semangat yang bergejolak ada dalam diri saya.
Pagi itu, di hari
Minggu Ayah berusaha membangun tidur nyenyak saya. Ayah membisikkan akan
mengajak saya untuk jalan-jalan ke “alun-alun” kota dengan
naik sepeda. Sontak mata bulat saya terbelalak gembira. Bergegas saya
menyiapkan diri, khawatir ajakan Ayah akan berubah. Ayah memang
telah bersiap diri dengan pakaian olahraga dan topi warna merah, senada
benar warnanya dengan tempat duduk sepeda saya.
Saya heran waktu
Ayah membawa sebilah tongkat, dan lagi-lagi Ayah tahu apa yang ada dalam
benak saya, Tak banyak bicara Ayah menyuruh saya untuk naik sembari
berkata, “ Tongkat ini untuk membantumu agar lekas bisa naik sepeda”.
Saya merasa tersihir oleh ucapan Ayah, dan ajaib begitu saya berusaha naik ayah
pelan-pelan mendorong dari belakang mulanya dengan tangan, namun diam-diam
tanpa sepengetahuan saya, Ayah mendorong dengan tongkat yang sudah
dipersiapkan.Wusss…Saya bisa melaju dengan sepeda yang didorong tongkat
oleh Ayah.
Ayah punya cara
yang berbeda untuk mengajari saya naik sepeda, dan Ayah juga punya cara
lain untuk menegur saya yang bandel tidak mau berhenti bermain air.
Apakah Ayah ingat saat itu, ketika saya bermain air dengan
ember di kamar mandi? Saya sudah cukup lama bermain air, tentu tidak
baik bukan buat anak kecil karena bisa membuat masuk angin. Ayah ternyata mengkhawatirkan
kesehatan saya.
Ayah
menegur saya, satu dua kali, namun saya tidak bergeming jua. Entah
mengapa tiba-tiba Ayah mendekati saya dengan membawa gayung lalu ,
“Byur… byuurr… byuuurrr, tanpa kata-kata lagi saya telah diguyur air
dari atas kepala
saya lengkap mengenakan
pakaian saya, tapi Ayah tak mau tahu. Ayah menghentikan ulah saya dengan terus
mengguyur saya beberapa saat lamanya. Saya menangis dan menggigil kedinginan. Saya benar-benar takut melihat Ayah
tanpa senyum mengguyur tubuh kecil saya.
Namun setelah itu Ayah
menggantikan pakaian basah dengan pakaian yang kering. Waktu itu saya hanya berdua
dengan Ayah di rumah, ibu masih belanja di warung. Saya masih terisak
pelan walaupun telah dibalut pakaian kering. Saya duduk menghadap kaca
jendela di ruang tamu. Saya terus menangis pelan-pelan dan
berharap ibu cepat pulang. Agak lama rupanya saya waktu itu baru melihat
ibu saya pulang dan
dengan kalap saya menghambur ke pelukan ibunya, mengadu dalam tangis saya yang pecah
seketika.
Ayah… kenangan
bersamamu masih banyak, saya tidak sanggup menuliskannya semua, karena
harus mengais file-file lama dalam pikiran saya yang penuh sesak. Tapi Ayah…, saya masih
ingin mengatakan sesuatu padamu bahwa ada satu hal rahasia yang ingin ungkapkan dengan
jujur padamu Ayah.
Tentu masih terekam dalam
memori Ayah waktu dulu saya mulai duduk di bangku kelas tiga Sekolah
Menengah Pertama, saya pernah membawa pulang teman sebangku saya ke
rumah. Saya baru sadar setelahnya Ayah, bahwa saya menyesal telah
membawa teman
saya
itu ke rumah. Perasaan itu masih
ada hingga sekarang, segumpal perasaan saya yang menyesakkan dada saya
Yah.
Teman saya itu perempuan yang dianugerahi
fisik yang sangat cantik dan rupawan. Tubuhnya yang imut
tapi langsing memiliki wajah Jepang, kedua matanya sipit dengan
tulang pipi yang menonjol, berhidung mancung dan ia memiliki bibir mungil yang seksi, rambut panjang dan
hitam
melengkapi kesempurnaan wajah cantiknya. Setiap orang yang melihatnya akan
langsung mengatakan dia cantik. Tak berbeda dengan sikapmu Yah. Saya
melihat dari cara Ayah memandang teman saya sangat berbeda, seperti
menyimpan kekaguman atas kecantikan yang dimiliki teman saya.
Mulanya saya
menepis perasaan itu Ayah, saya berpikir dengan akal sehat saya Ayah,
bahwa Ayah tak mungkin kagum seperti yang saya sangka. Tapi dugaan saya
salah besar Yah. Ayah memperlakukan dia berbeda dengan saya. Satu bulan lamanya, teman saya tinggal satu
kamar dengan
saya.
Alasannya karena rumah teman saya jauh, padahal harus menghadapi ujian
kelas tiga. Dengan simbiosis mutualisme, yaitu saya bisa belajar
dengannya karena buku-buku dia lebih lengkap dan dia bisa tinggal
bersama saya yang jarak tempat tinggal saya dengan sekolahan yang tak
begitu jauh. Ya semua sebetulnya baik-baik saja tapi saya tidak menduga ada resiko lain
yang saya harus hadapi, yaitu merasakan cemburu karena diperlakukan berbeda olehmu
Yah.
Perasaan saya
ternyata benar, Ayah sepertinya “jatuh hati” pada teman saya, kalau tidak
kenapa Ayah harus memberikan kasih sayang yang berlebihan pada teman
saya? Kenapa Ayah memanggil dia
dengan sebutan “Dik” padahal dengan saya tidak. Kenapa Ayah selalu
terlihat terpesona tiap kali berkata-kata dihadapan dia? Kenapa
Ayah selalu saja memberikan dia perhatian yang terbaik, misalnya
memberikan makanan kecil, selalu menanyakan kabar, selalu pula merasa
khawatir akan kesehatan teman saya dan selalu merasa cemas jika teman saya
menjadi tidak betah di rumah. Kenapa Ayah bersikap seperti itu? Dia
memiliki ayah sendiri. Ayah adalah ayah saya bukan ayah dia, jadi saya tidak
suka Ayah memberikan perhatian kepada dia lebih daripada saya. Saat
itulah saya belajar merasakan cemburu dan sakit hati darimu Ayah.
Saya menahan emosi
ini karena tidak ingin bertengkar dengan Ayah dan tidak ingin pula
bertengkar dengan teman saya. Tapi saya punya cara sendiri untuk
menyalurkan rasa cemburu ini. Ayah pasti merasakan setiap kali Ayah
bertanya tentang teman saya itu selalu saya menjawab sinis dengan
jawaban “tidak tahu”. Yah…, saya memang ingin memutuskan ingatan
Ayah pada teman saya yang setelah lulus SMP melanjutkan sekolah
ke luar kota. Saya sungguh terluka oleh sikapmu Yah. Saya pun saat itu berusaha
untuk menghapus jejak-jejak teman saya. Saya membakar foto teman saya. Tak
hanya itu, saya membakar surat dari teman saya yang
dikirim untuk menyakan kabar saya dan keluarga. Saya bahkan tidak sampaikan salam
teman saya kepadamu Yah. Saya ingin Ayah
tidak mengingatnya kembali dan saya ingin pula saya juga tidak
mengingat teman saya karena
luka ini sungguh sakit rasanya.
Saya putuskan untuk melupakan teman saya walau harus
butuh berbulan-bulan lamanya karena Ayah selalu saja berusaha
menanyakan kabar dia lewat saya. Ayah tahukah, bahwa tiap
kali Ayah bertanya seperti itu, hati saya tersayat, pedih sekali Yah.
Ayah…, saya memang
tidak memiliki fisik secantik dia, tapi saya adalah anakmu Yah, saya sangat
butuh kasih sayang tulusmu seperti waktu Ayah mengajari
saya bersepeda. Saya tidak ingin kasih sayang Ayah terbagi dengan anak
orang lain. Saya bisa terima Yah sebenarnya jika Ayah mau membagi kasih
sayang dengan orang lain, tapi dengan cara yang wajar Yah, tidak perlu
berlebihan Yah.
Ayah.., tidak tahu
bukan jika batin saya selalu menangis. Saya memang tidak jujur kepada Ayah. Andai saya
bisa terbuka mengutarakannya padamu pada saat itu juga, mungkin sesak dada
saya ini tidak terbawa sampai bertahun-tahun lamanya.
Kini saya telah tumbuh dewasa Ayah. Pengalaman
masa lalu saya semuanya saya jadikan kenangan terindah, kenangan yang
tak saya lupakan. Saya pun bisa
melalui hari-hari saya kembali dengan ceria tanpa harus dijejali dengan
pertanyaan Ayah tentang teman saya. Saya tahu, Ayah
merasakan apa yang saya rasakan, oleh karena itu Ayah tak lagi mau
bertanya kabar dia lewat saya, tapi justru menanyakanya langsung di
tempat tinggal teman saya. Saya tahu itu Ayah. Tapi Ayah menjaga
perasaan saya dan tidak mengungkit-ungkit nama teman saya dihadapan
saya.
Ayah…, kini usia
saya 30 tahun tahun, saya masih melajang. Ayah tahu kenapa? Masih
ada luka kecil yang membekas Yah, saya tidak mampu menghapusnya Yah.
Dari peristiwa cemburu saya pada Ayah tempo dulu itu ternyata sedikit
mempengaruhi saya dalam memandang laki-laki dan mempengaruhi saya
dalam memandang diri saya sendiri. Saya berpikir laki-laki pasti senang
pada perempuan berparas cantik. Padahal saya tidak memiliki itu, saya
merasa perempuan yang tidak memiliki kecantikan yang bisa dibanggakan seperti
perempuan-perempuan lainnya. Jadi saya takut merasa sakit hati yang kedua kalinya
Yah.
Ayah…, bukan maksud
saya menyalahkan sikap Ayah tempo dulu itu, bukan Ayah.. saya
hanya ingin mengabarkan tentang luka saya Ayah. Saya hanya ingin sembuh
dari luka saya Ayah. Saya berharap cara ini tepat, yaitu mengakui semuanya
dihadapan Ayah. Sebelum semua benar-benar terlambat Ayah, saya butuh
pengakuan darimu Ayah, bahwa saya adalah anak tercantikmu
yang pantas mendapatkan kaih sayangmu Yah. Pengakuan itu amat penting
bagi saya Yah, untuk kekuatan hidup saya yang mestinya tak punya waktu banyak lagi untuk
terus melajang.
Rasanya saya lebih lega yah
telah berbagi perasaan yang mengganjal denganmu Yah. Oh iya Ayah…, saya
ingin mengatakan bahwa saya sesungguhnya sayang sekali denganmu Yah. Saya selalu
mengingatmu Yah. Ayah hebat karena telah berhasil membesarkan empat orang anak Ayah walaupun harus
menjadi pencari nafkah tunggal. Saya tidak ingin membuat Ayah sedih.
Andai surat ini justru membuat Ayah sedih, saya minta maaf yang
sebesar-besarnya Yah. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi
mengobati luka ini. Saya hanya menurut kata hati saya saja Yah, bahwa
yang bisa mengobati luka adalah orang yang telah melukai itu sendiri,
seperti itu kira-kira yang diserukan kata hati saya. Sekali lagi saya
minta maaf Yah.
Peluk dan cium
sayang hanya untuk Ayah tercinta dari anakmu yang selalu merasa tenang
di didekatmu.

