Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati
Tak satu dua kali aku mendengar kata “Susuk “. Tak heran jika kata ini tak asing lagi dikedua telingaku. Tapi sejatinya aku belum begitu paham tentang maknanya. Yang aku tahu pasti susuk digunakan orang di dalam tubuh untuk maksud-maksud tertentu. Misalnya ada susuk dipasang di wajah sehingga akan tampak lebih cantik atau digunakan di bagian tubuh lain agar kebal terhadap benda-benda tajam lainnya. Ada pula susuk yang digunakan untuk KB agar tidak bisa hamil dan ada juga ( mungkin) susuk dengan maksud-maksud lainnya sesuai dengan kebutuhan si peminta.
Sampai umurku hampir mencapai angka 30 ( dalam hitungan hari lagi) aku belum pernah sekalipun melihat wujud susuk seperti apa dan juga aku tak pernah mengetahui seperti apa susuk itu dan bagaimana cara membuatnya. Pengetahuanku tentang susuk terlampau cekak, tapi yang pasti aku ketahui adalah jika seseorang menggunakan susuk maka meninggalnya akan sulit karena susuknya harus diambil terlebih dahulu. Ya perkara susuk tidak pernah mampir ke otakku sampai aku mendengar sendiri pengakuan temanku yang ternyata menggunakan susuk.
Aku hampir tersedak dengan air ludahku sendiri karena teman aku begitu gamblang menceritakan bahwa dirinya menggunakan susuk di wajahnya. Kepalaku memang langsung terasa berat, karena secepat kilat langsung pikiranku kemana-mana dan itu membuat kepalaku seperti tersengat lebah. Pening rasanya. Pertama sudah pasti aku kaget bin syok, temanku yang selama ini aku kenal dengan keseksiannya ternyata semuanya palsu!. Memang aku akui, ia seorang yang sensual. Orang yang memandangnya akan cenderung bersuiiittt panjang karena keseksiannya yang jelas terlihat di aura wajahnya. Kedua, aku tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa ia termasuk salah satu yang menggunakan susuk (amit-amit semoga aku tidak pernah mencobanya)karena aku rasa hal itu bertentangan dengan ajaran agama. Sebenarnya aku tidak tahu pasti hukumnya, tapi aku sudah berkeyakinan bahwa menggunakan susuk itu dosa. Ketiga semua cerita tentang masa lalunya menyimpulkan satu kata di dahiku “ ia pendusta”. Keempat, ia adalah salah satu dari ( mungkin) sekian banyak orang yang menggunakan susuk demi mendapatkan penampilan yang aduhai. Hal ini menguatkan aku bahwa apa yang dilihat secara kasat mata belum tentu benar. Sekali lagi belum tenu BENAR. Tak ada gunanya menyombongkan kecantikan yang kasat mata. Benar-benar tak ada gunanya menyombongkan kepalsuan diri. Kelima ia temanku memberi aku ilmu untuk mengingatkan kembali bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidaklah KEKAL dan tidaklah abadi. Hukum karma pasti berlaku. Setiap kesenangan yang hanya berkiblat keduniawian saja akan mendapatkan balasan yang setimpal. Semoga tulisan ini dapat mengingatkan pada kita semua bahwa kita yang ada di dunia ini akan kembali pada sang penciptaNya, sekali lagi tak ada yang perlu disombongkan karena semua adalah milikNya. Tabikku !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar