Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati
Judul : Pukat
Penulis : Tere liye
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : vi + 347 halaman
Penerbit : Republika, Jakarta
”Masa anak-anak adalah kesempatan emas untuk menumbuhkan kejujuran, harga diri, etos kerja serta perangai yang baik ” ( Tere-Liye )
Membaca lembar demi lembar karya Tere liye ini akan membuat Anda merasa kembali lagi pada masa anak-anak. Nuansa kepolosan, keluguan dan rasa keingintahuan seorang bocah dalam novel bertajuk Pukat ini begitu terasa mulai dari kisah Misteri Terowongan Kereta.
Meski alur ceritanya terkesan sederhana, toh tak merasa bosan dengan gaya bertutur Tere. Merampungkan satu kisah dari 25 kisah yang disajikan dalam novel setebal 347 halaman ini, akan membuat penasaran untuk membaca kisah-kisah berikutnya yang sebenarnya sambung menyambung menjadi sebuah kisah tentang masa anak-anak.
Namun bedanya, masa anak-anak Pukat tidak berada di tengah-tengah mainan anak-anak serba teknologi dan serba canggih, seperti play station, robot remote control, komputer, internet dan seterusnya. Pukat hidup di sebuah perkampungan pedalaman Kesehariannya lekat dengan sungai dan hutan yang masih lestari. Mainan Pukat adalah apa yang ada di alam sekitarnya. Mencari jangkrik atau menangkap ayam hutan bisa menjadi hal mengasyikkan dilakukan Pukat bersama adik dan teman-temannya.
Pukat, satu dari novel Tere yang mengisahkan empat anak-anak Mamak ini sarat akan nilai-nilai karakter yang sebenarnya diperlukan generasi penerus bangsa Indonesia ini untuk kembali menjadi generasi bangsa Indonesia yang berkarakter, gigih bekerja, punya pendirian dan rendah hati.
Tengok saja kisah Pertengkaran 2, mengajarkan bagaimana Pak Syahdan - ayah Pukat mendidik anak-anaknya untuk tumbuh menjadi seorang yang percaya diri. Pak Syahdan melerai pertengkaran anaknya dengan sebuah cerita yang bijaksana sehingga tidak membuat anak merasa terpojok dan merasa bersalah.
Lain lagi pada kisah Kaleng Kejujuran 1 – 4 akan membuat Anda merasakan bagaimana pentingnya kejujuran itu dipupuk sejak masa kanak-kanak. ” Orang-orang yang bersungguh-sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu membuat baik kepada orang lain, meski hidupnya tetap sederhana, tetap terlihat biasa-biasa saja, maka dia sejatinya telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia.” (hal. 164).
Selain itu Tere sejatinya ingin menyadarkan bahwa mencintai dan menyayangi keluarga adalah pondasi yang perlu dbangun sedari kecil. Lewat Seberapa Besar Cinta Mamak, Tere memberikan gambaran perenungan bahwa pengorbanan cinta seorang ibu tidak pernah berhenti walau sekejap mata. Coba kita resapi baik-baik sebaris kalimat ini, ”Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali. Karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.” (hal.206). Tak hanya cinta kepada keluarga, Tere juga mengajarkan tentang bagaimana mencintai alam dan menjaga keseimbangan alam. Lewat kisah Petani adalah Kehidupan Anda akan belajar untuk menghargai perjalanan sebutir nasi. Ya sedari masa anak-anak jika telah ditanamkan arti menghargai dan mencintai alam, kelak ia akan tumbuh serasi dengan alam.
Secara keseluruhan, novel ini layak untuk dikonsumsi anak-anak, remaja bahkan orangtua sekalian. Tak ada yang salah karena novel ini secara jujur memberikan ilmu tentang bagaimana menikmati hidup dengan sederhana dan penuh syukur kepadaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar