iklan

iklan aku

Minggu, 26 Februari 2012

Penipuan Berkedok


Oleh :  Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati.

Aku datang dengan jujur tapi kau melayaniku dengan kebohongan. Dan aku kecewa.
Siang itu aku keluar dari pintu supermarket waralaba yang kian marak bertengger di pinggir-pinggir jalan. Struk belanja  sempat aku perhatikan sebelum aku buang di tempat sampah yang ada di pintu keluar supermarket itu.
“Hey, harga di label dengan di stuk lain, wah jadi lebih mahal di struk. Kampret  ini  supermarket apaan masak system jualnya seperti ini. PEMBOHONG “, teriaku tiba-tiba begitu menyadari selisih harga antara di label dengan di struk.
Aku ingin kembali dan melabrak si kasir,  tetapi  ada dorongan lain dalam hatiku yang memaksaku untuk cepat-cepat  pergi dari tempat  yang membuat tekanan darahku meninggi.
Sepanjang perjalanan menuju rumahku mulut ini tak berhenti meneriakan sumpah serapah, “ aku benar-benar ditipu mentah-mentah.  Harga dilabel 2 200 rupiah, tapi sampai kasir ternyata harga menjadi 2 800 rupiah bedanya   memang tidak terlau jauh, tapi caranya. AKU BENAR-BENAR TIDAK SUKA.  Kalau saja tiap orang yang datang di supermarket itu dan mengalami nasib  seperti aku, akan ada  ratusan orang yang akan tertipu. INI BENAR-BENAR KETERLALUAN. Cara menjual barang dengan system menipu seperti ini.  HARAM BENAR-BENAR HARAM . Sama saja mereka makan gaji HARAM karena hasilnya diperoleh dengan cara menipu.  SUNGGUH TERLALU. LIHAT  SAJA, HUKUM KARSA MASIH BERLAKU BUNG. REJEKI KALIAN TIDAK AKAN BERKAH “, sungutku  dengan muka yang masih merah padam menahan kecewa, marah juga muak.
Betul memang kata  almarhumah Nike Ardilla, “dunia ini adalah panggung sandiwara”. Setiap insan mendapat peran yang seringkali harus memainkan peran bermuka lebih dari sebelas wajah.  Mengingat perkataan Nike di lirik lagunya membuatku jatuh terduduk, sejenak menghela napas berat dan mulai berbenah diri. ”Hidup memang pernuh warna,  hidup memang penuh peran .  akan aku ambil  peristiwa ini sebagai pelajran berarti bagi aku”, ujarku pelan dan menerawang.
Tapi dalam hati ada sebongkah kekuatan yang tumbuh kuncupnya bahwa kejujuran dan budi pekerti  yang baik harus  tetap ditegakkan walau  panggung sandiwara ini belum berakhir. Aku bertekad, akan aku ajarkan pada anak-anakku dan pada siapapun tentang kejujuran dan budi pekerti yang baik. Akan aku ingatkan pada khalayak  bahwa sekali lgi dunia ini adalah panggung sandiwara, dan panggung sebenarnya adalah  di alam akhirat nanti. Hanya kejujuran dan budi pekerti yang baiklah yang bisa menolong kita di alam akhirat nanti. Percayalah !

T. E.R.L.U.K.A

Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati.
Dering telpon genggam selulerku nyaring berbunyi, memaksaku membuka mata yang sudah terkantuk-kantuk dalam lelapnya malam. Sebuah nomor asing tertulis jelas di layar kusam hapeku.
“Assalamualaikum” sapaku
“ Wa’alaikum salam “ jawab suara di seberang sana.
Detik berikutnya suara di ujung sanapun ramai berceloteh, “ Hest, ne aku Wahid. Gimana kabarmu? Lagi apa neh? Lanjutnya suara yang ternyata teman SMAku . Ia telah empat tahun lamanya merantau di Kalimantan Timur dan bekerja di sebuah perusahaan tambang terbesar di Asia. Tak lama kemudian kamipun terlibat pembicaraan ringan yang sebenarnya menyesakkan hatiku.
****
“ Disini untuk menggerus tanahnya menggunakan dinamit. Jadi tanah dibor dengan kedalaman tertentu dan diletakkan dinamit. Lalu di ledakkan. Nah lapisan tanah bagian bawah tentu akan terlihat. Itulah yang diambil, lapisan batubaranya. Mesin-mesin yang digunakan besar dengan roda-roda yang sebesar rumah. Di Jawa nggak ada roda sebesar rumah seperti di sini.Wah bising sekali di sini” papar Wahid antusias saat aku tanya bagimana proses pertambangan beroperasi.
Aku mendengarkan dengan seksama suara di seberang telfon itu, sembari membayangkan. Aku melihat di dalam kepala aku, bumi bergetar bak terjadi gempa mendadak dan tanah tercerai berai. Seketika itu juga tanah berantakan dengan gunungan lapisan tanah dimana-mana. Tak ada pohon besar di sana karena telah dirobohkan, berganti dengan menara-menara pemantau dan mesin-mesin raksasa yang berdiri angkuh. Lalu berpuluh-puluh manusia dengan alat-alat dalam genggamannya merangsek ke dalam lokasi. Mulai menggali, duk…duk…duk…duk. Suara sirene mengikuti galian mereka. Sungguh aku merasa berdiri mematung di pertambangan itu, dengan pemandangan yang sangat menyiksa aku
Dadaku sesak. Aku terluka. Mesin-mesin itu seolah-olah merobek-robek tubuhku dengan paksa dan membuat tubuhku tercincang. Sempurna. Aku bisa merasakan betapa sakitnya bumi ini dirusak dengan paksa. Manusia-manusia itu yang sebenarnya mempunyai tugas sebagai pengatur tapi nyatanya, justru mereka menjadi perusak bumi pertiwi ini.
Aku merasakan kembali bahwa pepohonan itu butuh bertahun-tahun untuk hidup menjadi besar dan menjulang tinggi. Pohon-pohon itu selalu memberikan kesejukan bagi manusia. Tapi apa timbal baliknya, manusia yang rakus justru membunuh pohon-pohon itu. Hanya butuh berapa menit saja manusia-manusia tamak itu mengganti kesejukan dengan ketandusan. Seolah mereka tak memedulikan pohon-pohon itu yang telah dengan iklhasnya memberi oksigen kepada manusia.
Ya manusia hanya pandai berdalih, bahwa manusia memanfaatkan bumi dan seisinya untuk memperpanjang kehidupan manusia. Tapi ada mereka lupa, bahwa manusia tak akan pernah bisa mengembalikan alam seperti semula. Tak akan pernah bisa, manusia –manusia itu hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Seringai mereka seolah-olah mengatakan, “ Peduli amat dengan anak cucu, selama di sini ada batubara dan itu menguntungkan , mesin ini takkan pernah berhenti.”
Kalo boleh meminjam bahasa pendandut legandaris. Aku ingiin berdendang “ ini sungguh terlalu…”. Semoga tulisan ini bisa mendorong kita yang belum menjadi tamak (dan semoga takkan pernah menjadi tamak) untuk menegakkan kembali hukum alam yang lama tertindas, “alam memberi dan kita menjaganya” . Tabik

Jumat, 24 Februari 2012

Perempuan Polesan

Dengan seksama aku memperhatikan betul empat foto yang baru aku download. Aku banyak bergumam diri. Ya dia memang cantik, dengan balutan kebaya bermotif bunga dan selendang ungu yang berada di pundaknya tampak “pas” benar melekat ditubuh langsingnya. Mmm ditambah sanggul Jawa serasa serasi banget dengan muka tirusnya, kesan ayu jelas terpancar di wajahnya. Tapi sayang semuanya sirna saat aku bandingkan dengan foto dirinya yang tanpa polesan make up. Kesan suram dan tua jelas lebih menonjol terlihat di wajah sipitnya.

“Hei, jadi dia cantik karena make up ya!” seruku tiba-tiba

“Kalau seperti ini dia sama saja dengan perempuan-perempuan lainnya. Aku tidak mencari perempuan yang cantik dengan make up. Tapi aku mencari perempuan yang cantik tanpa make up”, geramku terasa dibohongi.

****

Aku bukan laki-laki. Aku adalah perempuan. Tulen. Aku punya buah dada. Aku menstruasi setiap bulan dan hormon-hormon perempuan pun aku miliki. Aku juga jatuh cinta pada laki-laki seperti pada perempuan lainnya. Jadi tentu saja tak ada yang salah- ya benar-benar tak ada yang salah sampai aku bertemu (lagi) dengan seorang perempuan yang membuatku seolah-olah menjelma menjadi laki-laki yang menginginkan perempuan.

Perempuan itu bukan siapa-siapa sebenarnya. Ia bukan Putri Diana, ia juga bukan istri Pangeran William, Ia bahkan bukan seorang Julia Perez ataupun Dewi Persik. Sekali lagi ia sebenarnya perempuan biasa dari keluarga biasa dan hidup biasa yang membuatku terpikat. Ya aku heran dengan kata-kata terpikat karena entah mengapa sejak aku melihat foto dirinya yang bak pendekar perempuan dari negeri Sakura, berdesir darahku dan berdegup cepat detak jantungku.

Jujur saja, aku memang pernah mengenal perempuan bak putri Jepang itu. Dulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dari perempuan itulah aku belajar merasakan menjadi perempuan buruk rupa. Ini benar-benar menyiksa aku. Ternyata setelah sekian tahun lamanya waktu berjalan peranku itu masih diperpanjang, padahal aku sudah sudah berhasrat ingin mengakhiri kontrak untuk memainkan peran perempuan buruk rupa. Bertemu dengannya kembali seakan-akan membuatku “gila” untuk selalu mengamati perempuan itu dari ujung rambut, wajah, lekuk tubuh sampai kedua kakinya.

****

Perempuan itu menjadi tolak ukur aku untuk mengamati perempuan-perempuan lainnya. Penemuan yang sangat berarti yang aku temukan bahwa tak sedikit perempuan yang berpoles make up demi mempercantik wajahnya. Tak jarang pula perempuan yang berpenampilan seakan-seakan sedang mengikuti sebuah kontes pemilihan busana terbaik.

Semua itu topeng bagi aku. Mereka justru menutupi keayuan aslinya. Mereka justru merendahkan diri mereka dengan menjadikan diri mereka perhatian orang-orang. Aku sunggh bergidik. Keringat dinginku mulai bercucuran saat aku merasakan bahwa persepsi yang dibentuk perempuan sekarang adalah perempuan polesan.

Ibarat kata jika mereka tidak berdandan, mereka akan malu untuk keluar rumah. Jika mereka memiliki tubuh subur mereka akan bersegera diet ketat untuk memperoleh tubuh langsing bak boneka barbie. jika mereka mempunyai kulit legam, mereka akan cepat-cepat mencari produk lotion pemutih. Jika wajah mereka berjerawat mereka akan menjerit, menutup wajahnya dan tak keluar kamar sampai reaksi obat penawar jerawat membuat wajahnya benar-benar mulus kembali. Jika mereka mempunyai hidung yang tak seruncing Pinokio mereka tampak kurang percaya diri dan bahkan mereka lebih merelakan rambut kriting ala Candy-candy berubah menjadi rambut lurus seperti sapu ijuk yang membuat mereka lebih memesona ( katanya).

****

Detik ini aku berhenti dengan peranku sebagai perempuan buruk rupa. Aku berhenti untuk selamanya. Persetan dengan perempuan berpoles. Aku masih punya keyakinan bahwa Allah tak menilai dari kepolesan wajah dan tubuh seseorang. Aku masih sangat percaya bahwa sebongkah hatilah yang membedakan derajat seseorang. Ya dari sebongkah hati yang selalu tersembunyi di dalam tubuh tapi auranya selalu memancar keluar. Hati yang baik maka auranya akan memberikan kecantikan pada pemiliknya, tapi hati yang buruk akan membuat keburukan pula bagi sang pemiliknya.

Kamis, 23 Februari 2012

Dia saja bisa


aku harus bisa tentunya. ayo ayo ayo jangan patah semangat menjalani hidup ini! nikmati dan jalani dengan ikhlas karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.

Cintai Kertas, Selamatkan Bumi

Oleh : Endang Artiati Suhesti, S.Pd
Eksplorasi alam yang besar-besaran masih terus terjadi di bumi tercinta kita ini. Penebangan hutan dan pengiriman kayu yang ilegal menambah parah keadaan alam. Banyak sekali daerah-daerah yang semula hijau menjadi tandus dan gundul, ini bisa menyebabkan terjadi bencana alam banjir jika terus menerus kita biarkan saja
Sebagai pendidik, berkewajiban pula untuk mendidik putra-putri didiknya mencintai bumi. Tujuannya adalah agar mereka kelak tidak menjadi pelaku perusak alam. Dengan menumbuhkan makna cinta secara universal dalam lubuk hati mereka, akan tertanam pada diri mereka kesadaran menjaga keindahan dan keseimbangan ekosistem alam .
Mendidik siswa-siswi untuk mencintai bumi tidak hanya sebatas pada wacana saja, dan tidak hanya terperangkap pada pemberian nilai budi pekerti mereka dengan angka. Pada prinsipnya yang perlu dilakukan, yaitu menumbuhkan dan menanamkan dalam lubuk hati mereka.
Partisipasi dan pembiasaan siswa untuk mencintai bumi perlu ditegakkan kembali. Setiap sekolah telah menerapkan pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan. Lebih dari itu pentingnya meminimalisir adanya sampah juga perlu diterapkan.
Penulis amati baik di sekolah maupun di instansi-instansi masih terlihat boros dalam penggunaan kertas. Misalnya saja, di sebuah sekolah, urusan Tata Usaha membutuhkan kertas untuk administrasi, tiap guru juga membutuhkan kertas untuk kegiatan belajar mengajar mereka. Tidak ketinggalan pula, tiap siswapun membutuhkan kertas untuk mencatat ataupun untuk ulangan. Kegiatan tahunan juga memerlukan kertas lebih banyak, misalnya saat ujian tengah semester, ujian kenaikan kelas maupun ujian nasional.
Jika mereka kurang menyadari pentingnya penghematan penggunaan kertas, lambat laun kebutuhan kertas akan terus membengkak dan memerlukan lebih banyak penebangan pohon. Jadi alangkahnya bijaksananya jika sebagai pendidik ikut sebagai pelaku gerakan hemat kertas, demi bumi kita tercinta. Guru memberikan model kepada siswa bagaimana menerapkan hemat kertas. Misalnya, Pertama menggunakan kertas seoptimal mungkin, jika ada kertas yang masih kosong disebaliknya bisa digunakan, Kedua latihlah anak untuk menulis yang rapi sehingga dapat memperkecil penggunaan kertas, Ketiga, Jika buku-buku tulis di tahun lalu masih ada yang kosong, ajak siswa untuk membuat buku catatan sendiri dengan mengumpulkan lembaran-lembaran kertas di buku tulis lama kemudian dibendel dan dijadikan satu. Keempat, selalu tanamkan pada mereka untuk mencintai kertas karena itu akan menyelamatkan bumi. Kelima, setiap tahun sekolah bisa mengadakan program “Sumbangkan Kertas Tidak Terpakai”. Program ini bisa diadakan saat kelulusan sekolah tiba. Tiap siswa yang lulus dapat menyumbangkan buku-buku tulis mereka yang sudah tidak terpakai ke sekolah. Kertas yang terkumpul ini kemudian dikelola sekolah dan adik-adik kelas untuk didaur ulang kembali sehingga mereka bisa terlibat langsung dalam menjaga bumi kita.