Itulah diriku sejak aku kuliah di kota budaya Ngayogyakarta, aku belajar satu hal yang selalu membekas dalam hati ini. Bahwa sesungguhnya hati yang nyaman dan tenang itu akan melahirkan kekuatan yang dasyat untuk menikmati kehidupan ini. Aku ingat sekali dengan jelas, bagaimana aku yang seorang diri tanpa seseorang yang ku kenal, mencoba berbaur dengan teman-teman dari berbagai daerah. Menyenangkan sudah tentu aku jawab iya. Karena hampir seluruh waktuku di kota budaya itu menjadi momen yang manis dan tetap selalu ku kenang. Marah sudah pasti aku juga merasakan, karena toh aku juga manusia normal yang bisa merasakan marah ketika hak aku tergadaikan atau diperlakukan tidak semena-mena, justru di tahun-tahun terakhir saat aku berada di kota itu aku merasakan harus berperang melawan idealisme, melawan keegoanku dan melawan logika sehatku.
Masa lalu sebenarnya sudah aku lupakan, namun ternyata memori di alam sadarku masih menyimpan dengan rapi rasa sakit yang dulu pernah ada. Sungguh akupun tidak menduga jika lewat teknologi yang canggih ini aku “bertemu” lagi dengan dia. Aku benar-benar tak mengira. Dengan sekali “bertemu” dengannya itu sudah meruntuhkan benteng kenyamanan dalam hatiku. Aku selalu berusaha sadar, bahwa dia tidak salah, tidak pernah salah. Ini hanya murni kesalahanku. Aku sadar itu dan berusaha untuk selalu sadar. Tapi nyatanya imanku tidak kuat, nyatanya aku toh manusia dengan segala kekurangan yang aku punya. Aku tidak kuat, dan dia benar-benar menghancurkan akal sehatku yang telah aku bangun bertahun-tahun ini.
Peristiwa satu detik “bertemu” dengan dia membuat aku tak lagi dapat merasakan kebahagiaan hidup sebab ingatan tentang dia justru melekat erat tanpa bisa kucongkel kembali. Dia menyerang ke dalam seluruh relung hidupku, dia seperti menguasai diriku bahakan dia tega menghancurkan memori terindahku bersama teman-temanku. Dia menyerang dan berkuasa sempurna mengendalikan pusat memoriku. Bahkan lebih dari itu, dia mulai merasukiku leat mimpi dalam tidurku yang membuat aku selalu terbangun dalam kegelisahan.
Entah yang aku rasakan sudah tidak bisa aku definisikan lagi, aku marah aku ingin dia hancur. Tapi detik berikutnya aku tersungkur. Aku menenangkan diri, bahwa bukan dengan cara dendam untuk menghancurkannya tapi justru dengan mengikhlaskan tentang dia. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, aku ingin dia pergi dari memoriku, aku ingin kembali mengukir senyum manis di bibirku. Aku mohon pergilah dari ingatanku, aku punya kehidupan sendiri, aku punya kebahagiaan sendiri.
Jatuh bangun aku berusaha untuk melenyapkan dia dari ingatanku, yang terjadi justru sebaliknya, aku makin ingin “bertemu” dengan dia. Oh Tuhan rencana apa yang akan Kau berikan untuk hambaMu ini. Aku yakin pasti semua akan berakhir dengan indah dan aku yakin Sang Penguasa segalanya akan memberikan yang terbaik untuk aku. Karena itulah aku selalu menata hatiku setiap detik agar aku tak lagi limbung, agar aku tak terjerembab dalam ingatan tentang dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar