iklan

iklan aku

Jumat, 16 November 2012

"Ayah...Saya Terluka"

Malam ini saya putuskan untuk menuliskan sepucuk surat ini padamu Ayah. Bertahun-tahun lamanya saya hidup dalam kegelisahan yang tak kunjung reda karena ada segumpal perasaan menyesakkan dada ini. Saya pikir menuliskannya dalam untaian kata adalah cara tepat saya bisa membagi perasaan ini padamu Yah. Saya memang tidak bisa menceritakannya langsung di hadapanmu. Lidah ini pasti terasa kelu tanpa kata-kata yang bisa terucap walaupun dada ini sesak penuh rasa.
Ayah…, mengingatmu dalam masa-masa kecil saya terasa menyenangkan walaupun ada kenangan pahit yang saya rasakan juga. Masih ingatkah waktu dulu Ayah mengajari saya sepeda mini yang kita temukan sama-sama di gudang rumah kakek? Ayah tentu masih ingat. Kenangan itu masih melekat erat dalam jiwa saya. Ayah telah berusaha keras untuk menyulap sepeda yang usang itu menjadi sepeda mini paling bagus yang pernah saya miliki, Ayah mengganti tempat duduk sepeda itu dengan warna merah menyala sehingga membuat saya begitu bersemangat untuk menaikinya. Jatuh bangun saya berusaha untuk menguasai sepeda itu, namun sayang saya masih belum berhasil, tapi Ayah melihat semangat yang bergejolak ada dalam diri saya.
Pagi itu, di hari Minggu Ayah berusaha membangun tidur nyenyak saya. Ayah membisikkan akan mengajak saya untuk jalan-jalan ke “alun-alun” kota dengan naik sepeda. Sontak mata bulat saya terbelalak gembira. Bergegas saya menyiapkan diri, khawatir ajakan Ayah akan berubah. Ayah memang telah bersiap diri dengan pakaian olahraga dan topi warna merah, senada benar warnanya dengan tempat duduk sepeda saya.
Saya heran waktu Ayah membawa sebilah tongkat, dan lagi-lagi Ayah tahu apa yang ada dalam benak saya, Tak banyak bicara Ayah menyuruh saya untuk naik sembari berkata, “ Tongkat ini untuk membantumu agar lekas bisa naik sepeda”. Saya merasa tersihir oleh ucapan Ayah, dan ajaib begitu saya berusaha naik ayah pelan-pelan mendorong dari belakang mulanya dengan tangan, namun diam-diam tanpa sepengetahuan saya, Ayah mendorong dengan tongkat yang sudah dipersiapkan.Wusss…Saya bisa melaju dengan sepeda yang didorong tongkat oleh Ayah.
Ayah punya cara yang berbeda untuk mengajari saya naik sepeda, dan Ayah juga punya cara lain untuk menegur saya yang bandel tidak mau berhenti bermain air. Apakah Ayah ingat saat itu, ketika saya bermain air dengan ember di kamar mandi? Saya sudah cukup lama bermain air, tentu tidak baik bukan buat anak kecil karena bisa membuat masuk angin. Ayah ternyata mengkhawatirkan kesehatan saya. Ayah menegur saya, satu dua kali, namun saya tidak bergeming jua. Entah mengapa tiba-tiba Ayah mendekati saya dengan membawa gayung lalu , “Byur… byuurr… byuuurrr, tanpa kata-kata lagi saya telah diguyur air dari atas kepala saya lengkap mengenakan pakaian saya, tapi Ayah tak mau tahu. Ayah menghentikan ulah saya dengan terus mengguyur saya beberapa saat lamanya. Saya menangis dan menggigil kedinginan. Saya benar-benar takut melihat Ayah tanpa senyum mengguyur tubuh kecil saya.
Namun setelah itu Ayah menggantikan pakaian basah dengan pakaian yang kering. Waktu itu saya hanya berdua dengan Ayah di rumah, ibu masih belanja di warung. Saya masih terisak pelan walaupun telah dibalut pakaian kering. Saya duduk menghadap kaca jendela di ruang tamu. Saya terus menangis pelan-pelan dan berharap ibu cepat pulang. Agak lama rupanya saya waktu itu baru melihat ibu saya pulang dan dengan kalap saya menghambur ke pelukan ibunya, mengadu dalam tangis saya yang pecah seketika.
Ayah… kenangan bersamamu masih banyak, saya tidak sanggup menuliskannya semua, karena harus mengais file-file lama dalam pikiran saya yang penuh sesak. Tapi Ayah…, saya masih ingin mengatakan sesuatu padamu bahwa ada satu hal rahasia yang ingin ungkapkan dengan jujur padamu Ayah.
Tentu masih terekam dalam memori Ayah waktu dulu saya mulai duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, saya pernah membawa pulang teman sebangku saya ke rumah. Saya baru sadar setelahnya Ayah, bahwa saya menyesal telah membawa teman saya itu ke rumah. Perasaan itu masih ada hingga sekarang, segumpal perasaan saya yang menyesakkan dada saya Yah.
Teman saya itu perempuan yang dianugerahi fisik yang sangat cantik dan rupawan. Tubuhnya yang imut tapi langsing memiliki wajah Jepang, kedua matanya sipit dengan tulang pipi yang menonjol, berhidung mancung dan ia memiliki bibir mungil yang seksi, rambut panjang dan hitam melengkapi kesempurnaan wajah cantiknya. Setiap orang yang melihatnya akan langsung mengatakan dia cantik. Tak berbeda dengan sikapmu Yah. Saya melihat dari cara Ayah memandang teman saya sangat berbeda, seperti menyimpan kekaguman atas kecantikan yang dimiliki teman saya.
Mulanya saya menepis perasaan itu Ayah, saya berpikir dengan akal sehat saya Ayah, bahwa Ayah tak mungkin kagum seperti yang saya sangka. Tapi dugaan saya salah besar Yah. Ayah memperlakukan dia berbeda dengan saya. Satu bulan lamanya, teman saya tinggal satu kamar dengan saya. Alasannya karena rumah teman saya jauh, padahal harus menghadapi ujian kelas tiga. Dengan simbiosis mutualisme, yaitu saya bisa belajar dengannya karena buku-buku dia lebih lengkap dan dia bisa tinggal bersama saya yang jarak tempat tinggal saya dengan sekolahan yang tak begitu jauh. Ya semua sebetulnya baik-baik saja tapi saya tidak menduga ada resiko lain yang saya harus hadapi, yaitu merasakan cemburu karena diperlakukan berbeda olehmu Yah.
Perasaan saya ternyata benar, Ayah sepertinya “jatuh hati” pada teman saya, kalau tidak kenapa Ayah harus memberikan kasih sayang yang berlebihan pada teman saya? Kenapa Ayah memanggil dia dengan sebutan “Dik” padahal dengan saya tidak. Kenapa Ayah selalu terlihat terpesona tiap kali berkata-kata dihadapan dia? Kenapa Ayah selalu saja memberikan dia perhatian yang terbaik, misalnya memberikan makanan kecil, selalu menanyakan kabar, selalu pula merasa khawatir akan kesehatan teman saya dan selalu merasa cemas jika teman saya menjadi tidak betah di rumah. Kenapa Ayah bersikap seperti itu? Dia memiliki ayah sendiri. Ayah adalah ayah saya bukan ayah dia, jadi saya tidak suka Ayah memberikan perhatian kepada dia lebih daripada saya. Saat itulah saya belajar merasakan cemburu dan sakit hati darimu Ayah.
Saya menahan emosi ini karena tidak ingin bertengkar dengan Ayah dan tidak ingin pula bertengkar dengan teman saya. Tapi saya punya cara sendiri untuk menyalurkan rasa cemburu ini. Ayah pasti merasakan setiap kali Ayah bertanya tentang teman saya itu selalu saya menjawab sinis dengan jawaban “tidak tahu”. Yah…, saya memang ingin memutuskan ingatan Ayah pada teman saya yang setelah lulus SMP melanjutkan sekolah ke luar kota. Saya sungguh terluka oleh sikapmu Yah. Saya pun saat itu berusaha untuk menghapus jejak-jejak teman saya. Saya membakar foto teman saya. Tak hanya itu, saya membakar surat dari teman saya yang dikirim untuk menyakan kabar saya dan keluarga. Saya bahkan tidak sampaikan salam teman saya kepadamu Yah. Saya ingin Ayah tidak mengingatnya kembali dan saya ingin pula saya juga tidak mengingat teman saya karena luka ini sungguh sakit rasanya. Saya putuskan untuk melupakan teman saya walau harus butuh berbulan-bulan lamanya karena Ayah selalu saja berusaha menanyakan kabar dia lewat saya. Ayah tahukah, bahwa tiap kali Ayah bertanya seperti itu, hati saya tersayat, pedih sekali Yah.
Ayah…, saya memang tidak memiliki fisik secantik dia, tapi saya adalah anakmu Yah, saya sangat butuh kasih sayang tulusmu seperti waktu Ayah mengajari saya bersepeda. Saya tidak ingin kasih sayang Ayah terbagi dengan anak orang lain. Saya bisa terima Yah sebenarnya jika Ayah mau membagi kasih sayang dengan orang lain, tapi dengan cara yang wajar Yah, tidak perlu berlebihan Yah.
Ayah.., tidak tahu bukan jika batin saya selalu menangis. Saya memang tidak jujur kepada Ayah. Andai saya bisa terbuka mengutarakannya padamu pada saat itu juga, mungkin sesak dada saya ini tidak terbawa sampai bertahun-tahun lamanya.
Kini saya telah tumbuh dewasa Ayah. Pengalaman masa lalu saya semuanya saya jadikan kenangan terindah, kenangan yang tak saya lupakan. Saya pun bisa melalui hari-hari saya kembali dengan ceria tanpa harus dijejali dengan pertanyaan Ayah tentang teman saya. Saya tahu, Ayah merasakan apa yang saya rasakan, oleh karena itu Ayah tak lagi mau bertanya kabar dia lewat saya, tapi justru menanyakanya langsung di tempat tinggal teman saya. Saya tahu itu Ayah. Tapi Ayah menjaga perasaan saya dan tidak mengungkit-ungkit nama teman saya dihadapan saya.
Ayah…, kini usia saya 30 tahun tahun, saya masih melajang. Ayah tahu kenapa? Masih ada luka kecil yang membekas Yah, saya tidak mampu menghapusnya Yah. Dari peristiwa cemburu saya pada Ayah tempo dulu itu ternyata sedikit mempengaruhi saya dalam memandang laki-laki dan mempengaruhi saya dalam memandang diri saya sendiri. Saya berpikir laki-laki pasti senang pada perempuan berparas cantik. Padahal saya tidak memiliki itu, saya merasa perempuan yang tidak memiliki kecantikan yang bisa dibanggakan seperti perempuan-perempuan lainnya. Jadi saya takut merasa sakit hati yang kedua kalinya Yah.
Ayah, bukan maksud saya menyalahkan sikap Ayah tempo dulu itu, bukan Ayah.. saya hanya ingin mengabarkan tentang luka saya Ayah. Saya hanya ingin sembuh dari luka saya Ayah. Saya berharap cara ini tepat, yaitu mengakui semuanya dihadapan Ayah. Sebelum semua benar-benar terlambat Ayah, saya butuh pengakuan darimu Ayah, bahwa saya adalah anak tercantikmu yang pantas mendapatkan kaih sayangmu Yah. Pengakuan itu amat penting bagi saya Yah, untuk kekuatan hidup saya yang mestinya tak punya waktu banyak lagi untuk terus melajang.
Rasanya saya lebih lega yah telah berbagi perasaan yang mengganjal denganmu Yah. Oh iya Ayah…, saya ingin mengatakan bahwa saya sesungguhnya sayang sekali denganmu Yah. Saya selalu mengingatmu Yah. Ayah hebat karena telah berhasil membesarkan empat orang anak Ayah walaupun harus menjadi pencari nafkah tunggal. Saya tidak ingin membuat Ayah sedih. Andai surat ini justru membuat Ayah sedih, saya minta maaf yang sebesar-besarnya Yah. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi mengobati luka ini. Saya hanya menurut kata hati saya saja Yah, bahwa yang bisa mengobati luka adalah orang yang telah melukai itu sendiri, seperti itu kira-kira yang diserukan kata hati saya. Sekali lagi saya minta maaf Yah.
Peluk dan cium sayang hanya untuk Ayah tercinta dari anakmu yang selalu merasa tenang di didekatmu.

Anak Pertamaku Pengantar Keliling Dunia

Jika Allah berkehendak maka aku akan berkeliling dunia... amien... terterikkah Anda? kontak me di 085643415576