Aku datang dengan doa tapi aku pulang dengan sumpah serapah.
Tertera jelas di undangan merah itu. Pukul 13.00 – 15.00, jadi aku bersiap dengan pangkaian yang sepantasnya, kebaya motif bunga biru yang aku padukan dengan kain batik coklat keemasan.. Ya aku akan menghadiri sebuah pesta pernikahan yang berbalut adat padang. Aku sebenarnya tidak mengenal mereka. Undangan itu lebih tepatnya ditujukan untuk ayahku. Aku datang karena aku mewakili ibu aku yang sedang menjadi “pagar ayu” di resepsi pernikahan anak pertama pak Haji Parno.
Kami datang selepas Dhuhur. Mendekati tempat resepsi, kendaraan hanya bisa berjalan merangkak padat. Ya penuh karena yang datang ke undangan kebanyakan dengan bermobil. “ Wah banyak undangannya neh. Mmm pasti mantab neh makanannya. Palagi pakai adat Padang neh.,” seruku dalam hati sambil menyberang pelan-pelan menju tempat resepsi
Di pintu masuk, masih banyak orang-orang bergerombol menunggu kerabatnya dan juga menunggu mobil pun motor mereka bisa keluar dari tempat parkir yang penuh sesak. Aku dan ayahku cepat-cepat mauk ke dalam tempat resepsi yang lebih banyak dihiasi warna merah menyala berpadu dengan warna kuning keemasan. Terasa banget serasa di Padang. Senyuman aku masih teruntai di wajahku sampai ketika aku bersalaman dengan pengantin perempuan. Itulah awal peritiwa yang bikin aku eneg plus sakit hati.
Saat bersalaman denganpengantin perempuan, ternyata si pengantin tidak melihat ke arahku. Pandangannya justru ke arah temannya yang ada di bawah panggung pengantin sembari berteriak “ayo sini photo dulu sama aku” jelas sekali ia tidak memperhatikan aku dan tidak konsentrasi kepadaku. Dia tidak mengindahkanku yang BENAR-BENAR NYATA ada di depan dia. Tak ada ucapan terimakasih ataupun mohon doa restu dari mulut pengantin perempuan. Aku benar-benar merasa sakit hati. Dia sungguh tidak menghargai aku, detik berikutnya rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuh aku. Doa indah dan ucapan selamat yang sudah di ujung lidah kelu dan harus aku telan lagi cepat cepat , berganti dengan ucapan sumpah serapah yang aku lontarkan pelan-pelan, “ dasar pengantin perempuanya benar-benar tidak sopan. Aku salaman rasanya tidak dianggep sama sekali. Aku doain gak akan bahagia mereka!” sungut aku.
Belum reda emosi yang serasa panas menampar pipiku, ternyata harus diperparah dengan keadaan makanan yang LUDES tidak bersisa. Aku hanya menemukan meja yang berisi gelas-gelas kotor dan deretan meja yang hanya dipenuhi tempat nasi, lauk dan sayuran yang juga kosong,. Aku masih belum sepenuhnya percaya, aku dekatin lagi meja di seberang kiri panggung, hasilnya sama saja, tak ada makanan yang bersisa.
Lalu aku baru menyadari bahwa tamu-tamu undangan lainnya juga sebelas dua belas nasibnya dengan aku. Hasrat ingin makan dengan perut yang lapar, eh ternyata hanya menemukan tumpukan piring kosong. Orang-orang yang datang masih banyak, masih baerduyun-duyun dan mereka harus menelas ludah karena tak menemukan makanan. Anak-anak kecil yang sudah berdandan imut pun harus menahan rasa kecewa lantaran tak ada sedikitpun suguhan di meja.
Keadaan diperparah dengan dengan tak ada tanda-tanda makanan akan diisi lagi. Itu menyebabkan ubun-ubunku panas membakar. “ Masya Allah. Apa-apaan ini menelantarkan tamu undangan seperti ini bikin resepsi tapi gak ada makanannya, MEMALUKAN sekali!” seruku setengah tertahan dinatara kerumunan orang.
Salah satu ibu di depanku ikut menimpali “Padahal ini baru jam 2 lho mabak. Kahan undangannya mpe jam 3. Tahu seperti ini, amplopnya diambil lagi saja. Harusnya kalo nyebar undangan 100 misalnya, makanannya itu ya untuk 300 orang. Jangan dipas seperti ini. Kalau seperti ini namanya cumin cari keuntungan saja, nerima amplopnya tapi gak mberi suguhan “, ujar si ibu dengan mengkal.
Dan yang bikin aku makin gondok. Keluarga yang di atas panggung seolah-olah tidak mau tahu dengan keadaan yang terjadi. Padahal antara panggung dengan tempat suguhan makanan hanya berjarak 10 langkah. Sekali lagi sepuluh langkah. Benar-benar memalukan.
Aku yakin 100 persen orang-orang kecewa dan kalau mereka kecewa mereka tentunya menjadi tidak ikhlas memberikan sumbangan. Padahal kalau tidak ikhlas, rejeki yang diterima akan menjadi tidak barokha. Nah kalau tidak barokah akan menimbulkan bencana-bencana yang tak terduga. Ini sungguh Malapetaka yang tidak diharapkan bukan. Apalagi keluarga dan si pengantin perempuan sudah membuat aku sakit hati. Aku tidak akan pernah ikhlas untuk mendoakan kebahagiaan mereka.