iklan

iklan aku

Minggu, 25 Maret 2012

Niat “Bikin Gawe” Nggak Sech?!

Aku datang dengan doa tapi aku pulang dengan sumpah serapah.

Tertera jelas di undangan merah itu. Pukul 13.00 – 15.00, jadi aku bersiap dengan pangkaian yang sepantasnya, kebaya motif bunga biru yang aku padukan dengan kain  batik coklat keemasan.. Ya aku akan menghadiri sebuah pesta pernikahan yang berbalut adat padang. Aku sebenarnya tidak mengenal mereka. Undangan itu lebih  tepatnya ditujukan  untuk ayahku. Aku datang karena aku mewakili ibu aku yang sedang menjadi “pagar ayu” di resepsi pernikahan anak pertama pak Haji Parno.
Kami datang selepas Dhuhur. Mendekati tempat resepsi, kendaraan hanya bisa berjalan merangkak padat.  Ya penuh karena yang datang ke undangan kebanyakan dengan bermobil. “ Wah banyak undangannya neh. Mmm pasti mantab neh makanannya. Palagi pakai adat Padang neh.,” seruku dalam hati sambil menyberang pelan-pelan menju tempat resepsi
 Di pintu masuk, masih banyak orang-orang bergerombol menunggu kerabatnya  dan juga menunggu mobil pun motor mereka bisa keluar dari tempat parkir yang penuh sesak.  Aku dan ayahku cepat-cepat mauk  ke dalam tempat resepsi yang lebih banyak dihiasi warna merah menyala berpadu dengan warna kuning keemasan. Terasa banget serasa di Padang. Senyuman aku masih teruntai di wajahku sampai ketika aku bersalaman dengan pengantin perempuan.  Itulah awal peritiwa yang  bikin aku eneg plus sakit hati.
Saat bersalaman denganpengantin perempuan, ternyata si pengantin tidak melihat ke arahku. Pandangannya justru ke arah temannya yang ada di bawah panggung pengantin sembari berteriak “ayo sini photo dulu sama aku” jelas sekali ia tidak memperhatikan aku dan tidak konsentrasi kepadaku. Dia tidak mengindahkanku yang BENAR-BENAR NYATA  ada di depan dia.  Tak ada ucapan terimakasih  ataupun mohon doa restu dari mulut pengantin perempuan.   Aku benar-benar merasa sakit hati. Dia  sungguh tidak menghargai aku, detik berikutnya rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuh aku.   Doa indah dan ucapan selamat yang sudah  di ujung lidah kelu dan  harus aku telan lagi cepat cepat , berganti dengan ucapan sumpah serapah  yang aku lontarkan pelan-pelan, “ dasar pengantin perempuanya benar-benar tidak sopan.  Aku salaman rasanya tidak dianggep sama sekali.  Aku doain gak akan bahagia mereka!” sungut aku.  
Belum  reda  emosi yang serasa panas menampar pipiku, ternyata harus diperparah dengan  keadaan makanan yang LUDES tidak bersisa. Aku hanya menemukan meja yang berisi gelas-gelas kotor dan  deretan meja yang hanya dipenuhi tempat nasi, lauk dan sayuran yang juga kosong,. Aku masih belum sepenuhnya percaya, aku dekatin lagi meja di seberang kiri panggung, hasilnya sama saja, tak ada makanan yang bersisa.
Lalu aku  baru menyadari bahwa  tamu-tamu undangan lainnya juga sebelas dua belas nasibnya dengan aku.  Hasrat ingin makan dengan perut yang lapar, eh ternyata  hanya menemukan tumpukan piring kosong. Orang-orang yang datang masih banyak, masih baerduyun-duyun dan mereka harus menelas ludah  karena tak menemukan makanan. Anak-anak kecil yang sudah berdandan imut pun harus menahan rasa kecewa  lantaran tak ada sedikitpun suguhan di meja.
Keadaan diperparah dengan  dengan tak ada tanda-tanda makanan akan diisi lagi.  Itu menyebabkan ubun-ubunku panas  membakar. “ Masya Allah. Apa-apaan ini menelantarkan tamu undangan seperti ini  bikin resepsi tapi gak ada makanannya, MEMALUKAN sekali!” seruku setengah tertahan dinatara kerumunan orang.
Salah satu ibu di depanku ikut menimpali “Padahal ini baru jam 2 lho mabak. Kahan undangannya mpe jam 3. Tahu seperti ini, amplopnya diambil lagi saja. Harusnya kalo nyebar undangan 100 misalnya, makanannya itu  ya  untuk 300 orang. Jangan dipas seperti ini. Kalau seperti ini namanya cumin cari keuntungan saja,  nerima amplopnya tapi gak mberi suguhan “, ujar si ibu dengan mengkal.
Dan yang bikin aku makin gondok. Keluarga yang di atas panggung seolah-olah tidak mau tahu dengan keadaan yang terjadi. Padahal antara panggung dengan tempat suguhan makanan hanya berjarak 10 langkah. Sekali lagi sepuluh langkah.  Benar-benar memalukan.
Aku yakin 100 persen orang-orang kecewa dan kalau mereka kecewa mereka tentunya menjadi tidak ikhlas memberikan sumbangan. Padahal kalau tidak ikhlas, rejeki yang diterima akan menjadi tidak barokha. Nah kalau tidak barokah akan menimbulkan bencana-bencana yang tak terduga.  Ini sungguh Malapetaka yang tidak diharapkan bukan.  Apalagi  keluarga dan si pengantin perempuan sudah membuat aku sakit hati. Aku tidak akan pernah ikhlas untuk mendoakan kebahagiaan mereka.


Rabu, 07 Maret 2012

Panggil Aku SuperMom


 
Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati

Judul     : Swara Perempuan narasi Kekerasan Berbasis Gender
Penulis  : Endang Listiani, dkk
Cetakan :  Mei, 2010
Tebal      : iii – 220 halaman
Penerbit :  SPEK – HAM, Solo


Benar.Lelaki adalah pemimpin bagi perempuan tapi tidak bisa diartikan lelaki boleh melakukan perempuan dengan semena-mena  ( Asma Nadia, penulis)

Di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari masih banyak kasus kekerasan rumah tangga yang terjadi, tak jarang perempuan sebagai korbannya. Kekerasan terhadap perempuan merupakan kekerasan berbasis gender karena relasi gender tak setara. Buku bertajuk Swara Perempuan mencatat bahwa ada 428 kasus KDRT dan 234 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan ditingkat Propinsi Jawa Tengah telah tertangani (hal. 102). Selain itu berdasarkan pemantauan dari LRC- KTHAM ( Legal resource Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia) Semarang, tercatat ada 149 Kekerasan Dalam rumah Tangga (suara merdeka, 1/12)

Data tersebut menggambarkan belum berfungsinya Undang-undang no 7 tahun 1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan Undang-undang no 23 tahun 2004 tentang pemberantasan kekerasan dalam rumah tangga. Para korban kekerasan belum banyak yang berani melapor sehingga masih ada anggapan yang kuat dalam masyarakat bahwa kekerasan adalah aib yang harus disembunyikan sehingga perempuan yang menjadi korban tidak mengajukan kasus ini melalui proses hukum.

Lebih dari itu, hukum di Indonesia belum sepenuhnya melindungi kaum hawa. Maria Estianty, mantan isti penyanyi Ahmad Dani mengungkapkan kekecewaannya, “Saya mengalami kekerasan fisik, psikis, juga ekonomi. Saya direndahkan, dihina, minder (selama) enam bulan (saya) kurus kering, tapi katanya tidak terbukti soal kekerasan psikis. Saya kecewa dengan hukum di Indonesia. Jika hal seperti itu berlanjut, perempuan - perempuan lain yang mengalami KDRT akan pasrah karena pesimis. Perempuan memilih pasrah, inilah perempuan Indonesia, belum bisa ngapa-ngapain. ( Kompas, 25/11)

Oleh karena itu, lewat buku yang diterbitkan oleh SPEk Ham ini, Anda akan melihat bahwa kekerasan masih menjamur. Swara Perempuan berisi teriakan dan rintihan korban kekerasan yang mayoritas perempuan. Seperti pada beberapa “kisah nyata” tentang KDRT dalam buku ini. Perempuan dicitrakan sebagai makhluk inferior yang harus selalu tunduk dan patuh pada perkataan dan atau perilaku suami. Perempuan diposisikan untuk memandangnya sebagai suatu permakluman ketika hal itu terjadi. Suami adalah kepala keluarga, karena suami adalah yang mencari nafkah, karena suami adalah imam, karena suami lebih punya kekuatan dan kekuasaan, karena suami adalah kehormatan istri, dan karena suami, seorang istri secara tidak sadar telah menyumbangkan kekerasan terhadap dirinya. ( hal. 103 – 104).

Lemah sekaligus Kuat
Salah satu kisah Perempuan dalam Perkawinan Poligami ( hal 2 – 20 ), mengabarkan pada kita bahwa perempuan tidak punya hak untuk memilih. Rini sebagai istri keempat hanya bisa pasrah dan bertahan. Rini tidak membayangkan bahwa kehidupan perkawinannya sebagai istri keempat terasa sulit. Bukan saja karena secara ekonomi suaminya harus berbagi kepada empat orang istri yang masing-masing memiliki selusin anak, ia namun juga berbagi perasaan dan mendapatkan tekanan psikologis yang cukup besar.

Kekerasan rumah tangga juga dialami oleh Trias Tuti ( nama samaran, hal. 32). Ia tak lagi merasakan buah manis dan bahagia setelah pernikahannya dengan Paidi. Suaminya tak mempercayai keperawanannya sebagai istri yang telah dinikahi secara sah. Akibat dari itu, sikap suaminya menjadi acuh tak acuh.”Suamiku jarang mau antar jemput aku. Padahal ketika pacaran, dia berjanji akan selalu melindungiku, termasuk mengantar jemput.Dia bersikap seenaknya sendiri seolah-olah aku bukan istri, bukan siapa-siapa yang patut disayangi dan dilindungi. Bila aku sakit, capek, atau badmood, dia acuh saja, tak pernah menanyakan keadaanku, dia memberiku 200.000 – 300.000 perbulan padahal gajinya hampir satu juta perbulan” (hal. 36)

Perempuan dalam buku ini digambarkan sebagai pihak yang tersudutkan dan tidak mempunyai banyak pilihan. Sebagian  dari mereka memilih untuk bertahan dalah hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Perceraian bagi mereka bukan sebuah solusi bijaksana. Apalgi jika perceraian itu bisa membuat orangtua dan keluarga terpukul. Kenyataanya, mereka ( terpaksa) mengatur segala urusan rumah tangga dan mendidik anak-anak seorang diri. Mereka tetap bergumul dengan kekerasan, tak jarang justru dari kondisi itulah membentuk mereka menjadi SuperMom

Ada Cinta disetiap Detik


Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati

Judul     : Bumi Cinta
Penulis  : Habiburrahman El  Shirazy
Cetakan :  2, Juli 2010
Tebal      : 1 – 546 halaman
Penerbit :  Author Publishing, Semarang


Jika pagi datang, orang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya, sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan dilakukan Allah kepadanya. ( hal. 58 )

Habiburrahman El Shirazy, penulis buku Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih membuat gebrakan lagi dengan karya novel bernuansa religius yang bertajuk Bumi Cinta. Anda akan diajak bersama tokoh utama dalam novel ini, Mohammad Ayyas, seorang santri salaf untuk mengagumi keindahan Rusia sekaligus berpetualangan dalam membasmi nafsu setan yang menggoda iman kita.
                                                                                                 
Di negara Rusia, orang yang beriman tidaklah mudah menjaga dan mempertahankan imanya. Rusia adalah negeri paling bebas sedunia, sebagaian penduduknya penganut faham free seks radikal juga pengakses situs porno. Musuh iman ada di mana mana berkeliaran. Mereka lebih kejam, lebih buas, lebih licik dan lebih sadis bila dibandingkan dengan musuh iman yang ada di negara yang terkenal bebas dan sekular. Di Rusia itulah, tokoh beriman, Ayyas berjuang mati matian menghadapi musuh-musuh iman. Perjuangannya tidak ringan, juga tidak gampang. Apalagi sebagai manusia biasa, imannya kadang bertambah, dan kadang berkurang ( hal. 6 -7 )

Ayyas hijrah ke Rusia untuk mengadakan penelitian tentang Kehidupan Islam di Rusia pada zaman pemerintahan Stalin. Tak terbayangkan di dalam benaknya, bahwa ia mesti hidup satu apartemen dengan dua perempuan yang bukan muhrimnya. Dua perempuan itu yaitu Yelena, perempuan muda  dengan pesona tubuh yang bisa mengikat kaum Adam. Ia bekerja sebagai wanita panggilan kelas kakap dan dirinya tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Hidupnya sebebas ia menentukan klien yang ingin dikencaninya. Seorang lagi bernama Linor, perempuan berdarah kental Yahudi yang bekerja sebagai pemain musik, sekaligus wartawan. Namun sejatinya ia adalah agen Zionis Israel di bawah kepemimpinan Ben Solomon. Di tempat lain, di MGU, universitas tempatnya berkonsultasi dan mencari referensi pustaka, Ayyas mesti berjuang untuk menjaga pandangannya dari sihir kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki pembimbing penelitiannya, Anastasia.
                 
Cinta dan Kasih SayangNya
Saat Anda membaca dan menghayati novel ini sampai lembar terakhir, Anda akan merasakan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Allah selalu menjaga hamba-hambaNya dengan penuh kasih sayang. Coba sejenak kita merenung untuk mengingat kembali sejarah perjalanan hidup. Berapa kali sudah Allah mengirimkan penyelamat hidup kita? Berapa kali sudah Allah menolong kita dalam kesusahan dan kesempitan yang mendera. Kalau kita jujur, pastilah sudah berkali kali. Bahkan kalau kita jujur, setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang kita tidak menyadarinya.

Misalnya, kita tidak sadar bahwa setiap detik Allah membersihkan darah kita dari pelbagai jenis racun yang mematikan. Allah mengatur pembersihan darah lewat “pabrik” yang bekerja dua puluh empat jam tanpa  henti, dan kita sama sekali tidak menyadari, atau kita malah ada yang tidak mengetahuinya. Pabrik ajaib itu bernama hati yang mempunyai fungsi mencapai 500 fungsi dan bertalian erat dengan fungsi organ tubuh lainnya.Tanpa hati manusia tidak akan bertahan hidup, bahkan akan mati terbunuh oleh pelbagai racun yang masuk ke dalam tubuh. Allah menjaga kehidupan seseorang dengan menciptakan hati dan menjaganya terus bekerja. Allah terus menjaga kita siang dan malam, hanya saja kita yang sering lalai.

Pertolongan dan kasih sayang Allah di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Orang yang bermaksiat sekalipun masih mendapat cipratan kasih sayang Allah ( hal 299 – 300 ). Seperti yang digambarkan dalam Bumi Cinta, saat Yelena dan Linor dibukakan hatinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, mereka akhirnya hijrah ke jalan Allah. Tak luput, Devid sahabat Ayyas juga mendapatkan hidayahNya untuk kembali menjalani hidup secara islami. Rona kebahagiaan terpancar pada wajah mereka. Baju gamis dan jilbab yang menutup aurat menambah anggun sosok Yelena dan Linor.

Kisah semua itu ditulis oleh Habiburrahman, peraih adikarya novelis pertama Indonesia dengan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dihayati. Dengan santun, ia menyisipkan ajaran-ajaran agama islam tentang bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini. Namun bukan berarti novel ini diperuntukkan hanya untuk umat muslim saja. Siapapun boleh untuk membaca buku ini, karena novel ini bisa menjadi penggugah jiwa untuk selalu mengkoreksi diri, tidak bermalas-malasan dan selalu percaya pada kekuasaan Ilahi.

Lewat sosok Ayyas, Anda akan dibantu untuk menyadari bahwa selalu ada cinta yang ditaburkan di bumi ini setiap saat. Seluruh makhluk hidup di dunia ini bertasbih untuk memujiNya. Dan semestinya, kita sebagai manusia yang beriman seharusnya jauh lebih bisa merasakan cinta yang telah diberikanNya. Sebuah pesan penting yang dibawa novel ini, bahwa kita tak semestinya memperturutkan hawa nafsu kita untuk mengejar kebahagiaan semu yang tak abadi. Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang lupa bahwa selalu ada cinta, kasih sayang dan kebahagiaan yang diberikanNya disetiap detik. Amien.

Puzzel yang Berserak


Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati

Judul     : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Penulis  : Tere liye
Cetakan : III, 2009
Tebal      : i + 428 halaman
Penerbit :  Republika, Jakarta

Ada yang bilang hidup itu sulit. Ada yang bilang hidup itu menantang Ada juga yang bilang hidup itu misteri. Dan yang lain bilang hidup itu warna warni, tapi Tere-liye bilang hidup itu sungguh  s - e – d – e – r – h – a – n – a.

Dikala sebagian manusia di bumi ini berjibaku dengan carut-marut kehidupan yang membuat hidup terasa sesak oleh kegelisahan, Tere mencoba menjelaskan bahwa hidup itu sesungguhnya tidak serumit yang dipikirkan.

Lewat novelnya yang bertajuk Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere sang penulis, berusaha untuk merestart ulang pemaknaan Anda terhadap kehidupan. Ia berkisah tentang Ray, seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Perjalanan kehidupan anak laki-laki ini penuh riak-riak ombak. Di hatinya selalu berkecamuk lima pertanyaan, “Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil?” Apakah kaya adalah segalanya?” Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup?” Apakah makna kehilangan?” Dan lima pertanyaan inilah yang menghantarkan kisah Ray sampai di penghujung nafas kehidupannya.

Ray bukanlah siapa-siapa, ia hanya seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai kesempatan mendapatkan pelukan kasih sayang dan kehangatan dari kedua orangtuanya. Justru sebaliknya 16 tahun dibesarkan dalam asuhan Pak Dar yang  ringan tangan, Ray tumbuh tanpa mengenal sebuah arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Sampai kemudian, ia menemukan kebahagiaan walau hanya sekejap  bersama “si gigi kelinci”. Ray juga sama dengan kebanyakan orang yang kadang khilaf dan belum bisa bersyukur. Saat kebahagiaannya direnggut, Ray benar-benar protes merasakan ketidakadilan kehidupan. Ia menyuarakan semua isi hatinya pada Tuhannya, kenapa bertahun-tahun hanya merasakan pahit getirnya kehidupan.

Ketika Anda mengikuti kisah Ray pada setiap lembarnya, Anda serasa sedang bepergian lewat “pintu kemana saja” milik Doraemon dalam tokoh film kartun. Anda akan bepergian untuk mengumpulkan puzzel-puzzel kehidupan Ray yang berserak. Ada puzzel kebahagiaan, keterpurukan, kegagalan, kerinduan dan keberhasilan dalam kehampaan. Saat seluruh puzzel bersatu, Anda akan menghembuskan napas pelan penuh kelegaan karena sejatinya Anda akan melihat bahwa segala urusan hidup ternyata sederhana, sesederhana hukum sebab akibat.

Makna lebih jauh novel ini, meminjam istilah Erbe Sentanu ( 2007:38) adalah pelajaran tentang Quantum Ikhlas. Hidup itu sebenarnya nikmat serta menyenangkan, dan karenanya perlu disyukuri. Rejeki itu sudah diatur cukup dan tidak perlu ada yang kekurangan. Ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan itu mudah untuk dijalankan, tak perlu mengeluh. Walaupun yang sedang dihadapi adalah “kepahitan” hidup, tapi percayalah semua akan terasa nikmat jika kita selalu berikhlas hati.

Jadi untuk apa Anda ragu, novel ini jelas bisa Anda gunakan sebagai media perenungan tentang apa yang telah Anda jalani dalam kehidupan selama ini. Tere tidak ingin menggurui, ia hanya  mencoba memberi penjelasan lewat baris-baris kalimat yang sederhana. Siapapun Anda, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, guru, atau pekerja lainnya resapilah baik-baik apa yang dituliskan Tere di akhir kisahnya, “hidup ini sungguh sederhana, bekerja keras, namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterimakasih maka sejatinya kita sudah menggenggam kebahagiaan kehidupan ini.”(hal.428).