iklan

iklan aku

Rabu, 07 Maret 2012

Saatnya Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur Kids


Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati

Kemajuan suatu bangsa tidak mungkin tanpa pengusaha (Jusuf Kalla).

Angka pengangguran di negara Indonesia masih cukup tinggi. Dalam situs Kompas.com dituliskan bahwa tingkat pengangguran Indonesia mencapai 9 % dan tingkat kemiskinan mencapai angka 13 %. Sebuah angka yang cukup memprihatinkan, karena bangsa ini telah memproklamirkan kemerdekaannya sejak 65 tahun.

Jika masyarakat luas lebih memahami tentang manfaat wirausaha dan mereka menerapkannya, lambat laun pasti pertumbuhan ekonomi bangsa ini semakin meningkat. Akan tetapi ada mindsite yang perlu diluruskan kembali kepada generasi penerus bangsa ini karena menghambat laju penciptaan lapangan pekerjaan. Sudah bertahun-tahun mindsite yang terbangun di sekitar kita adalah sekolah untuk mencari pekerjaan bukan sekolah untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Konsep yang ditanamkan ini akan membentuk cita-cita dan keinginan anak kelak nanti, jika anak besar nanti yang akan terbentuk adalah mencari lapangan pekerjaan bukan menciptakannya.

Perlu dicermati, bahwa mindsite sekolah adalah untuk mencari pekerjaan, salah satu berdampak pada urbanisasi yang cukup pesat, yaitu berbondong-bondong orang datang ke kota-kota besar mencari lapangan pekerjaan karena peluang kerja di kota lebih banyak daripada di desa. Sebagian dari mereka justru mencoba mendapatkan pekerjaan dengan merantau sampai ke negeri tetangga.

Hal ini memperlihatkan juga bahwa keberanian mereka untuk berwirausaha secara mandiri belum ada. Memang untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi menciptakan lapangan pekerjaan itu penuh resiko, penuh tantangan, sehingga masyarakat cenderung mencari lapangan pekerjaan yang tidak perlu memikirkan resiko yang ada. Bagi karyawan atau pegawai, mereka tinggal masuk bekerja dan menunggu awal bulan untuk menerima gaji.

Jusuf Kallla saat membuka acara Silahturohmi Saudagar Minang di Padang, Sumatera Barat mengatakan, “Jika dilakukan survei kepada 100 anak di Indonesia, tentang cita-cita mereka kelak dewasa, justru lebih banyak menjawab ingin menjadi dokter, guru, tentara atau pilot dan tidak ingin menjadi saudagar atau pengusaha” (Kompas  16 -9-2010).

Pernyataan Kalla ini meneguhkan bahwa jiwa dan semangat entrepreneur perlu dibangun dan ditanamkan pada setiap anak-anak bangsa Indonesia, Kedepan harapannya mereka akan tumbuh menjadi pribadi mandiri yang kreatif dan siap tempur untuk menciptakan  lapangan pekerjaan. Jika penciptaan lapangan pekerjaan tumbuh subur, maka dapat menampung jumlah angka pencari pekerjaan. Ketika angka pengangguran ini menurun  akan berdampak pada kesejahteraan bagi  masyarakat itu sendiri.
Lantas bagaimana cara untuk menumbuhkan semangat dan jiwa entrepreneur pada anak sejak dini ?

Peran orangtualah yang mesti lebih intens dan peka pada pertumbuhan anak. Usia 2 – 5 tahun adalah usia-usia dimana rasa keingintahuan mereka sangat tinggi. Pada masa ini, orangtua bisa mengenalkan dunia kewirausahaan secara bertahap pada mereka.  Konsep jual beli dapat dikenalkan pada anak sejak usia 2 tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan cara permainan jual beli. Anak bisa berperan sebagai penjualnya lalu orangtua bisa berperan sebagai pembeli, atau bisa sebaliknya.

Pertama, pertegas kalimat-kalimat yang digunakan ketika proses permainan jual beli itu berlangsung, misalnya, “Saya mau beli gula, harganya berapa ya?, “Ini uangnya”, “Kembaliannya belum lho”, Saya bisa tidak ya menawar harganya ?”. Awalnya anak tentu tidak mengerti, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, anak menjadi paham aturan mainnya. Kedua, jika anak sudah beranjak lebih besar, sekitar umur  3 – 4 tahun, perkenalkan anak dengan proses jual beli yang nyata. Anak bisa diajak ke pasar tradisional atau ke supermarket untuk ikut terlibat dalam transaksi jual beli. Beri anak penjelasan tentang pengetahuan tentang konsep perdagangan secara sederhana dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh anak. Ketiga, saat anak  bertambah usianya, misalnya ketika memasuki usia sekolah dasar, libatkan anak dengan usaha kecil-kecilan. Misalnya anak diikutsertakan untuk membantu berjualan layang-layang saat musim layang-layang. Ketika sedang musim buah, ajak anak untuk berdagang buah-buahan, atau usaha dagang lainnya yang bermacam-macam. Keempat, bertambahnya usia anak, coba latih pikiran kreatif dan ketertarikan mereka tentang usaha-usaha yang sekiranya bisa dikembangkan. Dorong anak anda memulai usahanya dari yang kecil terlebih dahulu, dan jadikan dia pelaku utamanya, sementara orangtua sebagai pembimbing dan pemberi dukungan. Kelima, jika anak sudah berani mencoba untuk memulai usahanya, terus dorong semangat entrepreneur anak dan rangsang ide-ide kreatifnya. Bisa jadi usaha pertamanya gagal, tetapi karena dorongan dari orangtua yang begitu tinggi, anak akan bangun lagi dan mencoba usaha di bidang lainnya. Justru pengalaman kegagalan ini diperlukan agar anak mempunyai mental yang kuat. Selalu beri dia motivasi agar mau bangkit kembali saat gagal, agar kelak tak gamang dalam  berwirausaha. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar