Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati
Judul : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Penulis : Tere liye
Cetakan : III, 2009
Tebal : i + 428 halaman
Penerbit : Republika, Jakarta
Ada yang bilang hidup itu sulit. Ada yang bilang hidup itu menantang Ada juga yang bilang hidup itu misteri. Dan yang lain bilang hidup itu warna warni, tapi Tere-liye bilang hidup itu sungguh s - e – d – e – r – h – a – n – a.
Dikala sebagian manusia di bumi ini berjibaku dengan carut-marut kehidupan yang membuat hidup terasa sesak oleh kegelisahan, Tere mencoba menjelaskan bahwa hidup itu sesungguhnya tidak serumit yang dipikirkan.
Lewat novelnya yang bertajuk Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere sang penulis, berusaha untuk merestart ulang pemaknaan Anda terhadap kehidupan. Ia berkisah tentang Ray, seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Perjalanan kehidupan anak laki-laki ini penuh riak-riak ombak. Di hatinya selalu berkecamuk lima pertanyaan, “Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil?” Apakah kaya adalah segalanya?” Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup?” Apakah makna kehilangan?” Dan lima pertanyaan inilah yang menghantarkan kisah Ray sampai di penghujung nafas kehidupannya.
Ray bukanlah siapa-siapa, ia hanya seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai kesempatan mendapatkan pelukan kasih sayang dan kehangatan dari kedua orangtuanya. Justru sebaliknya 16 tahun dibesarkan dalam asuhan Pak Dar yang ringan tangan, Ray tumbuh tanpa mengenal sebuah arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Sampai kemudian, ia menemukan kebahagiaan walau hanya sekejap bersama “si gigi kelinci”. Ray juga sama dengan kebanyakan orang yang kadang khilaf dan belum bisa bersyukur. Saat kebahagiaannya direnggut, Ray benar-benar protes merasakan ketidakadilan kehidupan. Ia menyuarakan semua isi hatinya pada Tuhannya, kenapa bertahun-tahun hanya merasakan pahit getirnya kehidupan.
Ketika Anda mengikuti kisah Ray pada setiap lembarnya, Anda serasa sedang bepergian lewat “pintu kemana saja” milik Doraemon dalam tokoh film kartun. Anda akan bepergian untuk mengumpulkan puzzel-puzzel kehidupan Ray yang berserak. Ada puzzel kebahagiaan, keterpurukan, kegagalan, kerinduan dan keberhasilan dalam kehampaan. Saat seluruh puzzel bersatu, Anda akan menghembuskan napas pelan penuh kelegaan karena sejatinya Anda akan melihat bahwa segala urusan hidup ternyata sederhana, sesederhana hukum sebab akibat.
Makna lebih jauh novel ini, meminjam istilah Erbe Sentanu ( 2007:38) adalah pelajaran tentang Quantum Ikhlas. Hidup itu sebenarnya nikmat serta menyenangkan, dan karenanya perlu disyukuri. Rejeki itu sudah diatur cukup dan tidak perlu ada yang kekurangan. Ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan itu mudah untuk dijalankan, tak perlu mengeluh. Walaupun yang sedang dihadapi adalah “kepahitan” hidup, tapi percayalah semua akan terasa nikmat jika kita selalu berikhlas hati.
Jadi untuk apa Anda ragu, novel ini jelas bisa Anda gunakan sebagai media perenungan tentang apa yang telah Anda jalani dalam kehidupan selama ini. Tere tidak ingin menggurui, ia hanya mencoba memberi penjelasan lewat baris-baris kalimat yang sederhana. Siapapun Anda, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, guru, atau pekerja lainnya resapilah baik-baik apa yang dituliskan Tere di akhir kisahnya, “hidup ini sungguh sederhana, bekerja keras, namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterimakasih maka sejatinya kita sudah menggenggam kebahagiaan kehidupan ini.”(hal.428).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar