Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati.
Aku datang dengan jujur tapi kau melayaniku dengan kebohongan. Dan aku kecewa.
Siang itu aku keluar dari pintu supermarket waralaba yang kian marak bertengger di pinggir-pinggir jalan. Struk belanja sempat aku perhatikan sebelum aku buang di tempat sampah yang ada di pintu keluar supermarket itu.
“Hey, harga di label dengan di stuk lain, wah jadi lebih mahal di struk. Kampret ini supermarket apaan masak system jualnya seperti ini. PEMBOHONG “, teriaku tiba-tiba begitu menyadari selisih harga antara di label dengan di struk.
Aku ingin kembali dan melabrak si kasir, tetapi ada dorongan lain dalam hatiku yang memaksaku untuk cepat-cepat pergi dari tempat yang membuat tekanan darahku meninggi.
Sepanjang perjalanan menuju rumahku mulut ini tak berhenti meneriakan sumpah serapah, “ aku benar-benar ditipu mentah-mentah. Harga dilabel 2 200 rupiah, tapi sampai kasir ternyata harga menjadi 2 800 rupiah bedanya memang tidak terlau jauh, tapi caranya. AKU BENAR-BENAR TIDAK SUKA. Kalau saja tiap orang yang datang di supermarket itu dan mengalami nasib seperti aku, akan ada ratusan orang yang akan tertipu. INI BENAR-BENAR KETERLALUAN. Cara menjual barang dengan system menipu seperti ini. HARAM BENAR-BENAR HARAM . Sama saja mereka makan gaji HARAM karena hasilnya diperoleh dengan cara menipu. SUNGGUH TERLALU. LIHAT SAJA, HUKUM KARSA MASIH BERLAKU BUNG. REJEKI KALIAN TIDAK AKAN BERKAH “, sungutku dengan muka yang masih merah padam menahan kecewa, marah juga muak.
Betul memang kata almarhumah Nike Ardilla, “dunia ini adalah panggung sandiwara”. Setiap insan mendapat peran yang seringkali harus memainkan peran bermuka lebih dari sebelas wajah. Mengingat perkataan Nike di lirik lagunya membuatku jatuh terduduk, sejenak menghela napas berat dan mulai berbenah diri. ”Hidup memang pernuh warna, hidup memang penuh peran . akan aku ambil peristiwa ini sebagai pelajran berarti bagi aku”, ujarku pelan dan menerawang.
Tapi dalam hati ada sebongkah kekuatan yang tumbuh kuncupnya bahwa kejujuran dan budi pekerti yang baik harus tetap ditegakkan walau panggung sandiwara ini belum berakhir. Aku bertekad, akan aku ajarkan pada anak-anakku dan pada siapapun tentang kejujuran dan budi pekerti yang baik. Akan aku ingatkan pada khalayak bahwa sekali lgi dunia ini adalah panggung sandiwara, dan panggung sebenarnya adalah di alam akhirat nanti. Hanya kejujuran dan budi pekerti yang baiklah yang bisa menolong kita di alam akhirat nanti. Percayalah !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar