Dengan seksama aku memperhatikan betul empat foto yang baru aku download. Aku banyak bergumam diri. Ya dia memang cantik, dengan balutan kebaya bermotif bunga dan selendang ungu yang berada di pundaknya tampak “pas” benar melekat ditubuh langsingnya. Mmm ditambah sanggul Jawa serasa serasi banget dengan muka tirusnya, kesan ayu jelas terpancar di wajahnya. Tapi sayang semuanya sirna saat aku bandingkan dengan foto dirinya yang tanpa polesan make up. Kesan suram dan tua jelas lebih menonjol terlihat di wajah sipitnya.
“Hei, jadi dia cantik karena make up ya!” seruku tiba-tiba
“Kalau seperti ini dia sama saja dengan perempuan-perempuan lainnya. Aku tidak mencari perempuan yang cantik dengan make up. Tapi aku mencari perempuan yang cantik tanpa make up”, geramku terasa dibohongi.
****
Aku bukan laki-laki. Aku adalah perempuan. Tulen. Aku punya buah dada. Aku menstruasi setiap bulan dan hormon-hormon perempuan pun aku miliki. Aku juga jatuh cinta pada laki-laki seperti pada perempuan lainnya. Jadi tentu saja tak ada yang salah- ya benar-benar tak ada yang salah sampai aku bertemu (lagi) dengan seorang perempuan yang membuatku seolah-olah menjelma menjadi laki-laki yang menginginkan perempuan.
Perempuan itu bukan siapa-siapa sebenarnya. Ia bukan Putri Diana, ia juga bukan istri Pangeran William, Ia bahkan bukan seorang Julia Perez ataupun Dewi Persik. Sekali lagi ia sebenarnya perempuan biasa dari keluarga biasa dan hidup biasa yang membuatku terpikat. Ya aku heran dengan kata-kata terpikat karena entah mengapa sejak aku melihat foto dirinya yang bak pendekar perempuan dari negeri Sakura, berdesir darahku dan berdegup cepat detak jantungku.
Jujur saja, aku memang pernah mengenal perempuan bak putri Jepang itu. Dulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dari perempuan itulah aku belajar merasakan menjadi perempuan buruk rupa. Ini benar-benar menyiksa aku. Ternyata setelah sekian tahun lamanya waktu berjalan peranku itu masih diperpanjang, padahal aku sudah sudah berhasrat ingin mengakhiri kontrak untuk memainkan peran perempuan buruk rupa. Bertemu dengannya kembali seakan-akan membuatku “gila” untuk selalu mengamati perempuan itu dari ujung rambut, wajah, lekuk tubuh sampai kedua kakinya.
****
Perempuan itu menjadi tolak ukur aku untuk mengamati perempuan-perempuan lainnya. Penemuan yang sangat berarti yang aku temukan bahwa tak sedikit perempuan yang berpoles make up demi mempercantik wajahnya. Tak jarang pula perempuan yang berpenampilan seakan-seakan sedang mengikuti sebuah kontes pemilihan busana terbaik.
Semua itu topeng bagi aku. Mereka justru menutupi keayuan aslinya. Mereka justru merendahkan diri mereka dengan menjadikan diri mereka perhatian orang-orang. Aku sunggh bergidik. Keringat dinginku mulai bercucuran saat aku merasakan bahwa persepsi yang dibentuk perempuan sekarang adalah perempuan polesan.
Ibarat kata jika mereka tidak berdandan, mereka akan malu untuk keluar rumah. Jika mereka memiliki tubuh subur mereka akan bersegera diet ketat untuk memperoleh tubuh langsing bak boneka barbie. jika mereka mempunyai kulit legam, mereka akan cepat-cepat mencari produk lotion pemutih. Jika wajah mereka berjerawat mereka akan menjerit, menutup wajahnya dan tak keluar kamar sampai reaksi obat penawar jerawat membuat wajahnya benar-benar mulus kembali. Jika mereka mempunyai hidung yang tak seruncing Pinokio mereka tampak kurang percaya diri dan bahkan mereka lebih merelakan rambut kriting ala Candy-candy berubah menjadi rambut lurus seperti sapu ijuk yang membuat mereka lebih memesona ( katanya).
****
Detik ini aku berhenti dengan peranku sebagai perempuan buruk rupa. Aku berhenti untuk selamanya. Persetan dengan perempuan berpoles. Aku masih punya keyakinan bahwa Allah tak menilai dari kepolesan wajah dan tubuh seseorang. Aku masih sangat percaya bahwa sebongkah hatilah yang membedakan derajat seseorang. Ya dari sebongkah hati yang selalu tersembunyi di dalam tubuh tapi auranya selalu memancar keluar. Hati yang baik maka auranya akan memberikan kecantikan pada pemiliknya, tapi hati yang buruk akan membuat keburukan pula bagi sang pemiliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar