iklan

iklan aku

Minggu, 26 Februari 2012

T. E.R.L.U.K.A

Oleh : Endang Artiati Suhesti, wanita yang selalu menata hati.
Dering telpon genggam selulerku nyaring berbunyi, memaksaku membuka mata yang sudah terkantuk-kantuk dalam lelapnya malam. Sebuah nomor asing tertulis jelas di layar kusam hapeku.
“Assalamualaikum” sapaku
“ Wa’alaikum salam “ jawab suara di seberang sana.
Detik berikutnya suara di ujung sanapun ramai berceloteh, “ Hest, ne aku Wahid. Gimana kabarmu? Lagi apa neh? Lanjutnya suara yang ternyata teman SMAku . Ia telah empat tahun lamanya merantau di Kalimantan Timur dan bekerja di sebuah perusahaan tambang terbesar di Asia. Tak lama kemudian kamipun terlibat pembicaraan ringan yang sebenarnya menyesakkan hatiku.
****
“ Disini untuk menggerus tanahnya menggunakan dinamit. Jadi tanah dibor dengan kedalaman tertentu dan diletakkan dinamit. Lalu di ledakkan. Nah lapisan tanah bagian bawah tentu akan terlihat. Itulah yang diambil, lapisan batubaranya. Mesin-mesin yang digunakan besar dengan roda-roda yang sebesar rumah. Di Jawa nggak ada roda sebesar rumah seperti di sini.Wah bising sekali di sini” papar Wahid antusias saat aku tanya bagimana proses pertambangan beroperasi.
Aku mendengarkan dengan seksama suara di seberang telfon itu, sembari membayangkan. Aku melihat di dalam kepala aku, bumi bergetar bak terjadi gempa mendadak dan tanah tercerai berai. Seketika itu juga tanah berantakan dengan gunungan lapisan tanah dimana-mana. Tak ada pohon besar di sana karena telah dirobohkan, berganti dengan menara-menara pemantau dan mesin-mesin raksasa yang berdiri angkuh. Lalu berpuluh-puluh manusia dengan alat-alat dalam genggamannya merangsek ke dalam lokasi. Mulai menggali, duk…duk…duk…duk. Suara sirene mengikuti galian mereka. Sungguh aku merasa berdiri mematung di pertambangan itu, dengan pemandangan yang sangat menyiksa aku
Dadaku sesak. Aku terluka. Mesin-mesin itu seolah-olah merobek-robek tubuhku dengan paksa dan membuat tubuhku tercincang. Sempurna. Aku bisa merasakan betapa sakitnya bumi ini dirusak dengan paksa. Manusia-manusia itu yang sebenarnya mempunyai tugas sebagai pengatur tapi nyatanya, justru mereka menjadi perusak bumi pertiwi ini.
Aku merasakan kembali bahwa pepohonan itu butuh bertahun-tahun untuk hidup menjadi besar dan menjulang tinggi. Pohon-pohon itu selalu memberikan kesejukan bagi manusia. Tapi apa timbal baliknya, manusia yang rakus justru membunuh pohon-pohon itu. Hanya butuh berapa menit saja manusia-manusia tamak itu mengganti kesejukan dengan ketandusan. Seolah mereka tak memedulikan pohon-pohon itu yang telah dengan iklhasnya memberi oksigen kepada manusia.
Ya manusia hanya pandai berdalih, bahwa manusia memanfaatkan bumi dan seisinya untuk memperpanjang kehidupan manusia. Tapi ada mereka lupa, bahwa manusia tak akan pernah bisa mengembalikan alam seperti semula. Tak akan pernah bisa, manusia –manusia itu hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Seringai mereka seolah-olah mengatakan, “ Peduli amat dengan anak cucu, selama di sini ada batubara dan itu menguntungkan , mesin ini takkan pernah berhenti.”
Kalo boleh meminjam bahasa pendandut legandaris. Aku ingiin berdendang “ ini sungguh terlalu…”. Semoga tulisan ini bisa mendorong kita yang belum menjadi tamak (dan semoga takkan pernah menjadi tamak) untuk menegakkan kembali hukum alam yang lama tertindas, “alam memberi dan kita menjaganya” . Tabik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar