iklan

iklan aku

Senin, 30 Januari 2012

Belajar dari Petani


Perjalanan pagi itu menyisakan sebuah ilmu berharga buat aku.

Di saat-saat tertentu aku melihat hamparan sawah membentang bagi permadani lembut berwarna hijau yang menyejukkan pundi-pundi jantung. Aku terpana melihat pemandangan indah seperti itu.  detik itu juga dari bibir mungilku aku sebut asmaNya. Aku memujiNya tanpa henti.  Semua begitu indah, pohon-pohon kelapa yang berderet memanjang bak sebuah pagar kokoh yang melindungi hamparan sawah dari terpaan badai. Lalu bukit kokoh itu memanjang seperti naga besar yang sedang tidur berbaring. Awan-awan putih berderak-derak di lautan langit yang biru  semakin membuat bibirku tak berhenti memujiNya.  Ciptaan  sempurna  dari Sang Penguasa pemilik atas alam seisinya ini.

Mata ini lekat menikmati hamparan padi yang mulai tumbuh. Serasa lembut sekali di mataku. “Ah begitu indah hidup ini jika bisa menikmatinya dengan benar” ujarku dalam hati. Belum juga aku lelah menikmati semua itu, aku dikejutkan lagi dengan pemandangan yang lebih mengagumkan di tempat berikutnya.  

Ada sekumpulan orang-orang paruh baya yang bercaping sedang membungkukkan badan. Mereka menggenggam sejumput padi dan menancapkannya ke dalam tanah satu persatu sembari melangkahkan kaki mereka satu demi satu, pelan-pelan. Mereka menggulungkan pakaian mereka yang  sederhana sampai selutut agar tidak terkena  genangan air bercampur tanah. Mereka tampak asyik tak mempedulikan sinar matahari yang mulai menyengat kulit mereka. Wajah-wajah mereka terbenam dalam caping, mereka terlihat khusuk melakukan aktivitas mereka. Seolah-olah benih-benih padi itu adalah bayi mereka, harus hati-hati dalam memandikannya.

Itulah mereka, para petani yang sedang menanam padi. Mereka begitu teratur seirama dan  telaten dalam melakukan pekerjaan mereka. Sungguh pemandangan yang membuat aku berdecak kagum karena detik berikutnya pikiranku secepat kilat bergabung dengan mereka, memperhatikan mereka, seolah-olah mereka adalah batu pualam indah yang mengkilap.  “P-e-t-a-n-I”, aku mengejanya pelan-pelan.tiba-tiba saja aku bergumam sendiri, “ P-E-T-A-N-I itu kepanjangan dari PEkerja TANpa Istirahat.” Ya  itu benar sekali. Mereka memang tidak pernah istirahat, mereka selalu merawat padi mereka sejak lahir hingga padi itu siap dipanen.  Sebelumnya mereka mengolah dulu tanah yang akan dipersiapkan untuk padi-padi mereka. Selalu begitu seterusnya hingga tangan dan kaki mereka tak bisa lagi menjejakkan kaki di lahan yang gembur itu.

Mengolah tanah tidak segampang mengetik sms lalu mengirimkannya, hanya butuh pencet tombol dan bisa dilakukan dimanapun. Tanah dibenamkan dulu dengan air selama beberapa hari, selanjutnya dibajak untuk menggemburkan tanah. Bila perlu tanah diberi pupuk agar semakin ok untuk tempat tumbuh padi. Saat lahan sudah dipersiapkan selama rentang hari yang ditentukan bibit-bibit padi pun didatangkan dan siap untuk ditancapkan ke dalam tanah yang sudah dialiri air. Pekerjaan tidak berhenti di situ saja. Mereka harus merawat bayi-bayi padi itu hingga tumbuh tumbuh dan tumbuh sampai mereka berbuat lebat dan siap di panen. Pun setelah memanen, mereka belum bisa merasakan hasil jerih payah mereka, karena padi yang sudah dipanen itu mesti dijemur hingga kering baru digiling menjadi butiran-butiran beras. Saat butiran beras itu  berganti rupa menjadi uang, barulah mereka bisa menikmatinya. Namun toh mereka tak punya waktu banyak karena, mereka mesti menyiapkan lahan lagi. Melakukan putaran yang sama tak kurang tak lebih. Hanya segunung harapan yang selalu mereka panjatkan kepada Ilahi, “ semoga panen berhasil dan tidak kena hama”, itulah doa para petani.

Sungguh aku memikirkannya sekaligus bisa merasakannya, kesabaran seorang petani benar-benar kesabaran tulus dan ikhlas. Semua pekerjaannya berbulan-bulan diputuskan hasilnya oleh Sang Pemilik semesta ini. Tak jarang padi yang telah mereka tanam berbulan-bulan itu habis tak bersisa karena terjaan angin yang hanya beberapa menit saja atau terjangan air bah yang datang tiba-tiba. Sudah dipastikan hasil pekerjaan yang berbulan-bulan itu tak bisa dibisa diharapkan. Mau marah kepada siapa mereka mesti marah? Mau menangis atau kecewa, apakah dengan cara itu menghadapinya. Tidak ! mereka hanya mengenal kata pasrah. Tak ada waktu untuk marah, kecewa dan menangis. Waktu terus berjalan dan mereka harus kembali melakukan putaran pekerjaan mereka. Bulir-bulir keringat menetes deras, mereka tak akan sempat mengadu dan berkeluh kesah. Mereka harus mengejar waktu, kembali mengolah tanah, menanam padi dan merawatnya hingga padi-padi itu menguning dan berbuah. “ semoga kali ini bisa panen”, ujarnya dengan ikhlas.

Membiarkan Jemariku Menari


Aku takkan lagi memenjarakan jemariku. Aku kan biarkan ia menari dengan  hatinya. Aku bakan telah mencoba membiarkannya menari dengan pikirannya. Aku melihat jemariku menikmati setiap tut-tuts huruf di keyboard komputer. Ah rasanya jemariku senang sekali, mereka meliuk-liuk dengan kecepatan balance  seirama dengan suasana hatinya. Kadang cepat tapi  kadang tiba-tiba terhenti total, lalu detik berikutnya kembali meliuk-liuk di atas tuts tanpa takut terpeleset, seolah-olah mereka tahu dengan pasti kapan menjejakkan kaki mereka dengan pas di atas deretan tuts yang warna putihnya mulai memudar.

Aku duduk terpekur, menikmati pertunjukan tarian jemariku. Senang sekali rasanya melihatnya karena setiap tuts-tuts yang dijejakkan akan tampak deretan huruf-huruf di layar monitor komputerku. Pemandangan yang mengagumkan. Aku bersyukur karena tarian itu menandakan bahwa jemariku kembali menemukan energi dan semangatnya untuk terus berkarya dan mengaktualisasikan diri. Aku tahu beberapa waktu yang lalu, jemariku seperti mogok, ia tak mau bahkan menolak untuk menari-nari di atas tuts, seakan semangat yang berkobar-kobar itu padam sudah. Sempurna.

Ya itu semua karena aku telah memenjarakan jemariku sendiri dalam kekacauan alam jiwaku. Kekacauan alam jiwa inilah yang menyebabkan kebekuan pikiran. Kebekuan pikiran yang membuat aku seolah-olah lumpuh dalam labirin hati yang menyesakkan. Butuh usaha yang tidak gampang untuk membuat energi itu mengalir kembali dalam tubuh aku. Jatuh bangun aku berusaha membebaskan jemariku dari penjara yang pengap penuh asap ketidakwarasan. Tapi nyatanya, usahaku masih kalah cepat di banding dengan asap-asap yang terus mengudara memenuhi relung-relung hati dan jiwaku. Sesak tanpa oksigen yang menyejukkan.

Tapi aku tahu itu semua sudah berakhir! aku sekali lagi tidak akan memenjarakan jemariku, aku ingin ia terus menari  dan menari di atas deretan tuts. Tak lagi menghiraukan  orang-orang yang memandang picik dan tak pula menghiraukan orang-orang berkata minor. Biarkan saja mereka dan lupakan mereka. Jemariku selalulah bersemangat untuk menari, aku membutuhkanmu untukku bernapas lagi dalam kelegaan. Jemariku sesalulah meliuk-liuk dalam nada-nada suara hati dan pikiran yang bersatu padu dalam kolaborasi yang maha dhasyat.

Ooh…Kiswanti

Seperti yang dituturkan oleh Pipiet Senja dalam tulisannya yang terpampang di kompasiana, Kuswanti adalah seorang ibu dua anak dan tinggal di Kampung Saja, Desa Lebak Wangi, salah satu desa di kecamatan Parung, Bogor, Jawa Barat. Kesehariannya berkeliling menaiki sepeda dan meminjamkan buku-buku milikku kepada anak-anak di desa. Kujalani setiap hari, buku-buku itu dipinjamkan secara gratis. Bagi Kuswanti, anak-anak mau membaca saja sudah membuatnya senang.

Paparan cerita Pipiet Senja itu membuat pikiran dan hatiku berderak-derak. Aku serasa belum melakukan apa-apa sampai diriku menjadi seorang ibu. Sungguh apa yang aku lakukan selama ini sepertinya tak lebih dari menuntut dengan harga yang setimpal pada tiap yang aku lakukan. Aku teringat pada pesan moral yang selalu digaungkan ole Pak Hafan lewat novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata, hidup itu adalah memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya.

Ingin rasanya aku menutup mukaku, karena selama ini toh aku mempunyai buku-buku hanya aku simpen, aku hanya berpikir , “ buku ini akan aku persembahkan kepada anak-anakku”. Tapi sepertinya aku salah daripada menunggu waktu yang belum tahu kapan pastinya datang, lebih baik dan lebih bermanfaat jika aku membuka diri untuk memulai membangkitkan gerakan membaca. Sungguh membaca adalah nutrisi bagi otak kita. Sungguh dengan membaca kita akan tahu dunia di sana. Sungguh dengan membaca kita melakukan perbuatan yang baik. Dan sungguh dengan membaca kita akan terhibur.

Lebih terasa bahagia jika aku mau membagi cerita yang ada di dalam buku-buku aku dengan sesama. Aku sungguh merasa keliru. Tapi aku juga orang yang sangat menghargai kebersihan buku. Aku sungguh tidak suka orang memperlakukan buku dengan senonoh dan aku bukan orang yang gampang percaya dengan orang lain bahwa orang lain bisa menjaga keberadaan buku dan menyayangi buku sesayang aku dengan buku. Ya dengan alasan seperti itulah aku tidak mau berbagi dengan sesama. Aku merasa terlalu khawatir.

Dan aku merasa kekhawatiranku sebenarnya bukan menjadi alasan aku untuk tidak berbagi, sungguh justru aku yang berdosa. Sangat berdosa. Aku teringat apa yang seorang ustad yang mengisi pengajian waktu jumatan. Aku berdiri menunggu ayahku untuk menunaikan jumatan dan saat itu aku seperti disadarkan bahwa harta yang paling berharga adalah ilmu. Sungguh kiranya aku akan bahagia sekali jika aku bisa membagi ilmu aku dengan orang lain sungguh kiranya aku akan bahagia sekali.

Aku ingin menutup wajahku yang serasa hina ini, sungguh aku terlalu sombong dan arogan untuk berbagi buku, berbagi ilmu yang sepersekiannya kesilnya dari ilmu yang dipunyaiNya.

Ya Rabb, bukakan hati hamba ya rabb untuk membagi ilmu yang hanya sebesar biji zahrah ini

Ya Rabb, lapangkanlah hati hamba untuk selulu ikhlas menolong sesama yang hanya mengharap RidhoMu ya Rabb.

Jumat, 20 Januari 2012

Generasi Rebonding


Oleh : Endang Artiati Suhesti *)

Tak jarang kita temui para remaja putrid yang pergi ke salon  untuk mempercantik  diri dengan mengubah tatanan rambut. Salah satu diantaranya yang paling digemari adalah meluruskan rambut mereka. Istilah kerennya rebonding, yaitu membuat rambut mereka lurus bak boneka-boneka barbie. Bagi mereka dengan rambut yang lurus dan mudah diatur akan mempercantik penampilan mereka, maka tak heran jika mereka berani mengularkan kocek demi mendapatkan penampilan yang oke.

Sikap mereka yang mengubah penampilan diri mereka bisa dikatakan merupakan sikap ketidakpercayaan diri.  Mereka   merasa lebih tampil percaya diri dengan tampilan yang baru ngetrend. Tentu saja hal ini langung tidak langsung berpengaruh pada pola pikiran mereka. Ya tentu saja ikut memperngatuhi budaya mereka.

Budaya timur kita mulai tergeser dengan derasnya budaya asing yang masuk ke negara Indonesia. Banyak generasi muda yang bergaya  kebarat-baratan, dari penampilan, tutur bahasa sampai pola pikir. Bagi mereka bergaya ala barat sama dengan sebutan lebih gaul, lebih keren, dan semakin bergaya modern  akan menjadi lebih trendy.

Dari bahasa prokem, dandanan dan pakaian model ala artis barat, sampai pada pergaulan bebas ala barat menjadi trend di kalangan anak muda saat ini. Terlalu banyak generasi muda tercabut identitasnya. Mereka tidak tahu sejarah dan asal-usul keluarga, apalagi tentang prestasi nenek moyangnya yang membanggakan. Mereka lebih mengenal budaya shabu-shabu, pesta dengan glamour, budaya Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, Levis, dan sebagainya.

Bagi mereka sebutan “kuper”, “jadul”, “kolot” menjadi “momok” yang menakutkan, karenanya mereka berlomba-lomba mengikuti trend yang sedang ada. Semakin  mereka menjadi follower trend yang pertama, mereka semakin merasa percaya diri Cerita-cerita rakyat, kidung dan petuah kuno sudah mereka ditinggalkan. Kehidupan glamour dan konsumtif  lebih merasuki pola hidup anak muda zaman sekarang.
Saatnya bagi kita, para pendidik untuk mendidik ulang generasi rebonding yang pribadinya gampang berubah-ubah karena mengikuti trend. Kita harusnya malu dengan nenek moyang kita karena tidak bisa menjaga kelestarian budaya timur kita. Perlu adanya penerapan budaya milik kita di setiap sekolah-sekolah. 
Misalnya pada pendidikan sejarah, seharusnya bukan menjadi pelajaran yang membosankan bagi peserta didik. Justru dari sinilah kita bisa memberikan pemahaman kepada mereka tentang budaya dan identitas  banga kita. Bung Karno pernah berpidato, “jangan sekali-kali melupakan sejarah,” artinya sejarah itu sangat penting untuk diingat sebagai pemacu semangat untuk bertempur dan berjuang meraih masa depan yang lebih gemilang.
Sejarah perlu ditrasfer kepada setiap generasi penerus bangsa. Cara penyampaian dengan ekspresif dan semangat yang menyala-nyala akan menciptakan atmosfir ketertarikan pada setiap peserta didik. Buat  peserta didik terhipnotis dengan sejarah, dan bawa pikiran mereka ke zaman dulu untuk ikut merasakan kembali kobaran semangat tinggi  dan budaya yang menjunjung nilai-nilai luhur.
Kemasan penyampaian pendidikan sejarah dapat pula dimodifikasi dengan bentuk teaterikal siswa atau drama pendek yang mengisahkan peristiwa sejarah. Anak akan lebih menghayati dan memahami, karena mereka memerankan tokoh dalam peristiwa sejarah itu. Proses penghayatan yang terjadi dalam diri anak ini dapat  berfungsi  untuk membentuk kesadaran budaya dan pondasi identitas diri. Sehingga harapannya, mereka tidak lagi mencari identitas palsu dan terlena dengan budaya generasi rebonding.
*) Guru SMP Negeri 2 Cilongok, Banyumas