iklan
Senin, 30 Januari 2012
Belajar dari Petani
Membiarkan Jemariku Menari
Ooh…Kiswanti
Seperti yang dituturkan oleh Pipiet Senja dalam tulisannya yang terpampang di kompasiana, Kuswanti adalah seorang ibu dua anak dan tinggal di Kampung Saja, Desa Lebak Wangi, salah satu desa di kecamatan Parung, Bogor, Jawa Barat. Kesehariannya berkeliling menaiki sepeda dan meminjamkan buku-buku milikku kepada anak-anak di desa. Kujalani setiap hari, buku-buku itu dipinjamkan secara gratis. Bagi Kuswanti, anak-anak mau membaca saja sudah membuatnya senang.
Paparan cerita Pipiet Senja itu membuat pikiran dan hatiku berderak-derak. Aku serasa belum melakukan apa-apa sampai diriku menjadi seorang ibu. Sungguh apa yang aku lakukan selama ini sepertinya tak lebih dari menuntut dengan harga yang setimpal pada tiap yang aku lakukan. Aku teringat pada pesan moral yang selalu digaungkan ole Pak Hafan lewat novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata, hidup itu adalah memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya.
Ingin rasanya aku menutup mukaku, karena selama ini toh aku mempunyai buku-buku hanya aku simpen, aku hanya berpikir , “ buku ini akan aku persembahkan kepada anak-anakku”. Tapi sepertinya aku salah daripada menunggu waktu yang belum tahu kapan pastinya datang, lebih baik dan lebih bermanfaat jika aku membuka diri untuk memulai membangkitkan gerakan membaca. Sungguh membaca adalah nutrisi bagi otak kita. Sungguh dengan membaca kita akan tahu dunia di sana. Sungguh dengan membaca kita melakukan perbuatan yang baik. Dan sungguh dengan membaca kita akan terhibur.
Lebih terasa bahagia jika aku mau membagi cerita yang ada di dalam buku-buku aku dengan sesama. Aku sungguh merasa keliru. Tapi aku juga orang yang sangat menghargai kebersihan buku. Aku sungguh tidak suka orang memperlakukan buku dengan senonoh dan aku bukan orang yang gampang percaya dengan orang lain bahwa orang lain bisa menjaga keberadaan buku dan menyayangi buku sesayang aku dengan buku. Ya dengan alasan seperti itulah aku tidak mau berbagi dengan sesama. Aku merasa terlalu khawatir.
Dan aku merasa kekhawatiranku sebenarnya bukan menjadi alasan aku untuk tidak berbagi, sungguh justru aku yang berdosa. Sangat berdosa. Aku teringat apa yang seorang ustad yang mengisi pengajian waktu jumatan. Aku berdiri menunggu ayahku untuk menunaikan jumatan dan saat itu aku seperti disadarkan bahwa harta yang paling berharga adalah ilmu. Sungguh kiranya aku akan bahagia sekali jika aku bisa membagi ilmu aku dengan orang lain sungguh kiranya aku akan bahagia sekali.
Aku ingin menutup wajahku yang serasa hina ini, sungguh aku terlalu sombong dan arogan untuk berbagi buku, berbagi ilmu yang sepersekiannya kesilnya dari ilmu yang dipunyaiNya.
Ya Rabb, bukakan hati hamba ya rabb untuk membagi ilmu yang hanya sebesar biji zahrah ini
Ya Rabb, lapangkanlah hati hamba untuk selulu ikhlas menolong sesama yang hanya mengharap RidhoMu ya Rabb.