Perjalanan pagi itu menyisakan sebuah ilmu berharga buat aku.
Di saat-saat tertentu aku melihat hamparan sawah membentang bagi permadani lembut berwarna hijau yang menyejukkan pundi-pundi jantung. Aku terpana melihat pemandangan indah seperti itu. detik itu juga dari bibir mungilku aku sebut asmaNya. Aku memujiNya tanpa henti. Semua begitu indah, pohon-pohon kelapa yang berderet memanjang bak sebuah pagar kokoh yang melindungi hamparan sawah dari terpaan badai. Lalu bukit kokoh itu memanjang seperti naga besar yang sedang tidur berbaring. Awan-awan putih berderak-derak di lautan langit yang biru semakin membuat bibirku tak berhenti memujiNya. Ciptaan sempurna dari Sang Penguasa pemilik atas alam seisinya ini.
Mata ini lekat menikmati hamparan padi yang mulai tumbuh. Serasa lembut sekali di mataku. “Ah begitu indah hidup ini jika bisa menikmatinya dengan benar” ujarku dalam hati. Belum juga aku lelah menikmati semua itu, aku dikejutkan lagi dengan pemandangan yang lebih mengagumkan di tempat berikutnya.
Ada sekumpulan orang-orang paruh baya yang bercaping sedang membungkukkan badan. Mereka menggenggam sejumput padi dan menancapkannya ke dalam tanah satu persatu sembari melangkahkan kaki mereka satu demi satu, pelan-pelan. Mereka menggulungkan pakaian mereka yang sederhana sampai selutut agar tidak terkena genangan air bercampur tanah. Mereka tampak asyik tak mempedulikan sinar matahari yang mulai menyengat kulit mereka. Wajah-wajah mereka terbenam dalam caping, mereka terlihat khusuk melakukan aktivitas mereka. Seolah-olah benih-benih padi itu adalah bayi mereka, harus hati-hati dalam memandikannya.
Itulah mereka, para petani yang sedang menanam padi. Mereka begitu teratur seirama dan telaten dalam melakukan pekerjaan mereka. Sungguh pemandangan yang membuat aku berdecak kagum karena detik berikutnya pikiranku secepat kilat bergabung dengan mereka, memperhatikan mereka, seolah-olah mereka adalah batu pualam indah yang mengkilap. “P-e-t-a-n-I”, aku mengejanya pelan-pelan.tiba-tiba saja aku bergumam sendiri, “ P-E-T-A-N-I itu kepanjangan dari PEkerja TANpa Istirahat.” Ya itu benar sekali. Mereka memang tidak pernah istirahat, mereka selalu merawat padi mereka sejak lahir hingga padi itu siap dipanen. Sebelumnya mereka mengolah dulu tanah yang akan dipersiapkan untuk padi-padi mereka. Selalu begitu seterusnya hingga tangan dan kaki mereka tak bisa lagi menjejakkan kaki di lahan yang gembur itu.
Mengolah tanah tidak segampang mengetik sms lalu mengirimkannya, hanya butuh pencet tombol dan bisa dilakukan dimanapun. Tanah dibenamkan dulu dengan air selama beberapa hari, selanjutnya dibajak untuk menggemburkan tanah. Bila perlu tanah diberi pupuk agar semakin ok untuk tempat tumbuh padi. Saat lahan sudah dipersiapkan selama rentang hari yang ditentukan bibit-bibit padi pun didatangkan dan siap untuk ditancapkan ke dalam tanah yang sudah dialiri air. Pekerjaan tidak berhenti di situ saja. Mereka harus merawat bayi-bayi padi itu hingga tumbuh tumbuh dan tumbuh sampai mereka berbuat lebat dan siap di panen. Pun setelah memanen, mereka belum bisa merasakan hasil jerih payah mereka, karena padi yang sudah dipanen itu mesti dijemur hingga kering baru digiling menjadi butiran-butiran beras. Saat butiran beras itu berganti rupa menjadi uang, barulah mereka bisa menikmatinya. Namun toh mereka tak punya waktu banyak karena, mereka mesti menyiapkan lahan lagi. Melakukan putaran yang sama tak kurang tak lebih. Hanya segunung harapan yang selalu mereka panjatkan kepada Ilahi, “ semoga panen berhasil dan tidak kena hama”, itulah doa para petani.
Sungguh aku memikirkannya sekaligus bisa merasakannya, kesabaran seorang petani benar-benar kesabaran tulus dan ikhlas. Semua pekerjaannya berbulan-bulan diputuskan hasilnya oleh Sang Pemilik semesta ini. Tak jarang padi yang telah mereka tanam berbulan-bulan itu habis tak bersisa karena terjaan angin yang hanya beberapa menit saja atau terjangan air bah yang datang tiba-tiba. Sudah dipastikan hasil pekerjaan yang berbulan-bulan itu tak bisa dibisa diharapkan. Mau marah kepada siapa mereka mesti marah? Mau menangis atau kecewa, apakah dengan cara itu menghadapinya. Tidak ! mereka hanya mengenal kata pasrah. Tak ada waktu untuk marah, kecewa dan menangis. Waktu terus berjalan dan mereka harus kembali melakukan putaran pekerjaan mereka. Bulir-bulir keringat menetes deras, mereka tak akan sempat mengadu dan berkeluh kesah. Mereka harus mengejar waktu, kembali mengolah tanah, menanam padi dan merawatnya hingga padi-padi itu menguning dan berbuah. “ semoga kali ini bisa panen”, ujarnya dengan ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar