Suasana pagi di sekolah biasanya masih semangat. Anak-anak sekolah yang masih seger dari rumah berangkat dengan semangat yang tinggi. Mereka terlihat cepat-cepat ingin segera sampai ke sekolah, entah karena jam dinding yang menunjukkan hampir pukul tujuh pagi yang artinya bel tanda masuk sekolah berbunyi, entah karena mereka belum mengerjakan tugas, atau ada sesuatu kejadian yang ingin mereka ceritakan pada teman sebangkunya, atau karena mereka tak sabar akan bertemu dengan guru mereka yang begitu menyenangkan dan membuat mereka betah untuk berlama-lama belajar dengan si guru itu.
Tapi ternyata bagian yang terkahir ini tidak semuanya terjadi di sekolah. Rata-rata mereka buru-buru ke sekolah ya karena memang tanda masuk sekolah adalah jam tujuh pagi, tentunya mereka tidak mau telat, atau mereka akan berhadapan dengan guru yang memberikan sanksi.
Lebih banyak waktu yang mereka gunakan untuk belajar di dalam kelas, dan lebih banyak mereka mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas atau diskusi kelompok. Jam-jam pada dinding semakin berdetak dan waktu semakin berjalan, satu dua diantara mereka mulai merasa bosan dan jenuh, apalagi ketika guru tidak datang saat jam mengajarnya, oi mereka bersuka cita bahkan mereka merayakannya dengan memainkan musik dari media yang sederhana, meja atau mungkin di tambah dengan batang sapu atau juga dengan penggaris yang dipukulkan ke meja
Jikalau pemandangan ini hampir terjadi setiap harinya, apakah proses belajar mengajar di sekolah sudah bisa dikatakan berhasil. Jawabannya jelas: belum berhasil !
Salah satu penyebabnya mereka melakukan seperti itu adalah kebosanan, tidak ada aktivitas yang menarik bagi mereka sehingga dengan kreatif mereka mencari aktivitas-aktivitas sendiri yang menyenangkan bagi mereka. Inilah sebenarnya yang perlu diperhatikan, hususnya bagi guru yang mendidik siswa-siswanya di sekolah.
Membuat suasana kelas menjadi menyenangkan adalah salah satu alternatif untuk mengoptimalkan proses belajar dan mengajar. Logikanya begini jika suasana di kelas menjadi menyenangkan akan membuat siswa lebih fokus pada kegiatan yang sedang berlangsung dan ketika fokus maka perhatian anak hanya pada satu kegiatan, tidak ada pikiran mereka untuk mengalihkan pada kegiaaan yang lain, oleh karena itu dampak positif yang diperoleh, metari yang diberikan oleh guru akan lebih mudah dipahami dan diresapi anak. Mereka akan jauh lebih berkesan dan perlu diingat bahwa sesuatu yang berkesan akan lebih lama mengendap dalam memori anak.
Maka untuk memperoleh pembelajaran yang maksimal, seorang pendidik berkewajiban untuk mengembangkan cara berpikir yang lebih kreatif. Ini sebuah tuntutan wajib demi keberhasilan pendidikan di Indoensia.
Berpikir kreatif adalah cara berpikir yang menggunakan pola pikir out of the box, yaitu berpikir I luar kota. Cara berpikir ini akan menghasilkan pikiran yang luar biasa. Analoginya sudah jelas, misalnya saja author music dan koreografer tarian, dan writer. Mereka selalu menggunakan pikiran kreatif sehingga menghasilkan karya-karya besar yang bisa membuat orang berhenti sejenak dan bergumam “ kok bisa ya?”. Contoh lain sebanrnya masih banyak, dan yang patut disadari bahwa setiap orang punya potensi yang sama menjadi kreatif asalkan ada kemauannya.
Jadi bila proses kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan sekreatif mungkin, tentu akan membuat siswa berkesan dan lebih tertarik lagi. Ini akan meacu semangat belajar siswa tersebut dan hasilnya tentu akan lebih memuaskan. Contoh sederhana saja untuk materi pelajaran tentang peta. Jika selama ini menggunakan peta atlas yang hanya satu dimensi tentu tidak semenarik jika menggukana peta yang tiga dimensi atau kalau perlu empat dimensi.
Saya membayangkan jika pelajaran saat mengenalkan geografi letak benua dan Negara menggunakan film empat dimensi. Anak tentu akan merasakan sensasi yang berbeda. Mereka akan lebih merasa ada di peta dan hal ini akan membuat mereka lebih terarik lagi untuk bejajar tentang geografis dunia. Wow sungguh tentu belajar menjadi sangat menyenangkan.
Untuk materi pelajaran yang lain, tentu saja masih terbuka lebar untuk menerima masukan dan pengembangan yang kreatif. Jadi sudah saatnya bangkit dari kemonotonan yang membuat bosan. Ayo dan mari kita optimalkan cara kerja otak kita yang punya potensi sangat dasyat untuk merubah dunia. Tabik !
*) Endang Artiati Suhesti, S.Pd, pendidik di SMP N 2 Cilongok Banyumas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar