Aku takkan lagi memenjarakan jemariku. Aku kan biarkan ia menari dengan hatinya. Aku bakan telah mencoba membiarkannya menari dengan pikirannya. Aku melihat jemariku menikmati setiap tut-tuts huruf di keyboard komputer. Ah rasanya jemariku senang sekali, mereka meliuk-liuk dengan kecepatan balance seirama dengan suasana hatinya. Kadang cepat tapi kadang tiba-tiba terhenti total, lalu detik berikutnya kembali meliuk-liuk di atas tuts tanpa takut terpeleset, seolah-olah mereka tahu dengan pasti kapan menjejakkan kaki mereka dengan pas di atas deretan tuts yang warna putihnya mulai memudar.
Aku duduk terpekur, menikmati pertunjukan tarian jemariku. Senang sekali rasanya melihatnya karena setiap tuts-tuts yang dijejakkan akan tampak deretan huruf-huruf di layar monitor komputerku. Pemandangan yang mengagumkan. Aku bersyukur karena tarian itu menandakan bahwa jemariku kembali menemukan energi dan semangatnya untuk terus berkarya dan mengaktualisasikan diri. Aku tahu beberapa waktu yang lalu, jemariku seperti mogok, ia tak mau bahkan menolak untuk menari-nari di atas tuts, seakan semangat yang berkobar-kobar itu padam sudah. Sempurna.
Ya itu semua karena aku telah memenjarakan jemariku sendiri dalam kekacauan alam jiwaku. Kekacauan alam jiwa inilah yang menyebabkan kebekuan pikiran. Kebekuan pikiran yang membuat aku seolah-olah lumpuh dalam labirin hati yang menyesakkan. Butuh usaha yang tidak gampang untuk membuat energi itu mengalir kembali dalam tubuh aku. Jatuh bangun aku berusaha membebaskan jemariku dari penjara yang pengap penuh asap ketidakwarasan. Tapi nyatanya, usahaku masih kalah cepat di banding dengan asap-asap yang terus mengudara memenuhi relung-relung hati dan jiwaku. Sesak tanpa oksigen yang menyejukkan.
Tapi aku tahu itu semua sudah berakhir! aku sekali lagi tidak akan memenjarakan jemariku, aku ingin ia terus menari dan menari di atas deretan tuts. Tak lagi menghiraukan orang-orang yang memandang picik dan tak pula menghiraukan orang-orang berkata minor. Biarkan saja mereka dan lupakan mereka. Jemariku selalulah bersemangat untuk menari, aku membutuhkanmu untukku bernapas lagi dalam kelegaan. Jemariku sesalulah meliuk-liuk dalam nada-nada suara hati dan pikiran yang bersatu padu dalam kolaborasi yang maha dhasyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar