Dunia makin cepat melaju dalan keadigdayaan teknologi yang makin canggih. Orang-orang seakan terlalu sibuk saling berkejar untuk mengungguli satu sama lain. Satu tujuan yang ada dalm pikiran mereka yaitu, kedudukan top di puncak piramid. Tak heran jika melihat aktivitas mereka yang seakan tak pernah berhenti.
Bagi mereka prestise itu sangat penting bahkan mungkin yang paling utama. Tak ada lagi waktu untuk santai dan berleha-leha karena satu menit saja mereka lengah, posisi mereka bisa terjungkal atau kesempatan mereka bisa kandas direbut oleh orang lain.
Kesibukan mereka membuat penat pikiran. Aku heran, bagaimana mungkin orang-orang saling memperebutkan penilaian orang sehingga mereka bangga sekali menjadi yang teratas di kalangan makhluk sejenisnya. Mereka menginginkan kedudukan sosisal yang tinggi, mereka menginginkan kesempurnaan sebuah keluarga, mereka menginginkan kecukupan secara materi, mereka menginginkan kesempurnaan penampilan, mereka mengingnkan, ya semuanya dengan serba sempurna.
Namun kita tidak pernah tahu akan nasib kita karena nasib menyapa tiap orang dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang memang mendapatkan semua yang mereka inginkan, namun ada pula dari mereka yang terkungkung dalam kemelaratan dan tergilas dalam persaingan ketat yang makin menggila. Coba saksikan sekali lagi , apa yang telah disuguhkan oleh penglihatan kita. Ada perkelahian di sana, ada penipuan berkedok agama. Ada pulan yang menghamba atas nama cinta buta. Ada perselingkuhan, ada pula pembunuhan, ada pula korupsi dan ada pula jilat menjilat antara sesame manusia untuk mempelancar tujuan mereka. Sungguhkah itu semua yang kita cari itu adalah hakekat dari kehidupan ini, ataukan itu semua hanya fatamorgana dalan dunia yang kian sempit ini.
Kehidupan sejatinya adalah untuk mencapai kebahagiaaan. Kehidupan sejatinya adalah untuk merasakan nikmat yang telah diberikan olehNya kepada setiap hambaNya. Kehidupan itu sederhana. Ia tak butuh peraturan-peratusan yang menyangkut kasta. ia juga tak butuh penilaian-penilaian orang yang dibuat sendiri di kalangan mereka. Sungguh kehidupan itu sejatinya adalah keseimbangan. Tak dapatkah semua manusia sadar akan tujuannya di dunia ini. Tak bisakah manusia tidak saling mengagungkan kesempurnaan mereka. Tak bisakah manusia tidak mengkultus seseorang diantara kita. Tak bisakah seeorang itu hidup dalam kedamainan dan kerukunan tanpa saling melecehkan, tanpa saling membedakan.
Dunia butuh seuntai senyum yang tulus. Dunia butuh orang-orang berhati bijaksana. Dunia hanya butuh kesederhanaan dalam kedamaian dan kerukunan. Dalam kebersamaan, seuntai senyum yang tulus itu akan menjadi sebuah energi besar yang bisa meruntuhan segala arogansi manusia. Dunia menunggu agar seuntai senyum itu merekah di pagi hari yang berhiaskan pelangi indah di sudut kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar