iklan

iklan aku

Kamis, 19 Januari 2012

Sudahkah Anda Mendidik dengan Hati?


Oleh : Endang Artiati Suhesti, S.Pd*)

Jika berkata-kata dari hati, maka akan sampai ke hati (anonim)
Jika kita mau merenung kembali apa yang terjadi dalam dunia pendidikan dalam beberapa terakhir ini tentu akan sangat miris. Usia anak sekolah sudah melakukan aksi pornografi, usia aknak sekolah  melakukan bunuh diri, tawuran yang melibatkan gengnya dsampai memakan korban, penculikan, penipuan bahkan ada juga yang tega mekakukan pembunuhan ibu kandungnya sendiri hanya karena menginginkan sepeda motor yang belum bisa dipenuhi orangtuanya. Banyak juga diberitakan anak-anak sekolah yang stress dan tertekan dalam menghadapi ujian nasional, dan kasus-kasus yang berkaitan dengan teknolgi canggih lainnya.
Seiring dengan perkembangan teknologi berbanding lurus dengan resiko yang  harus dihadapi, ketika anak sudah pintar mengopersikan komputer,. Ia bisa dikatakan menjadi seorang yang pintar dalam teknologi, tapi resiko yang harus dihadapi salah satunya adalah adanya kekhawatiran kalau keahlian mengoperasikan komputer itu disalahgunakan sehingga justru menyebabkan bumerang bagi dirinya.
Pendidikan Investasi Peradaban
Kalimat itu terlutis besar-besar di Universitas Negeri Yogyakarata,  yang akan ditemui saat  memasuki gedung rektorat kampus pendidikan tersebut. Apa yang terkandung dalam sepenggal kalimat itu, amat sangat dalam jika diresapi. Individu yang memiliki pendidikan tentu akan menjadi manusia yang lebih berabad daripada  individu yang tidak memiliki pendidikan sama sekali. Dan yang jelas bukan hanya pendidikan yang diperoleh secara kognitif saja yang akan membentuk manusia menjadi lebih beradab, melainkan pendidikan secara moral  juga tak kalah penting.
Pendidikan secara moral sangat berkaitan dengan  cara dan metode yang diberikannya. Di sini peran yang sangat penting adalah guru dan orangtua. Mereka memiliki peran besar  dalam membentuk moral perilaku  setiap anak-anak generasi penerus bangsa.  
Pengamat anak, Kak Seto Mulyadi dalam sebuah seminar pendidikan di Pontianak beberapa waktu yang lalu, mengatakan bahwa mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan dan kekasaran. Mendidik itu dilakukan dengan hati. Kalau anak diajari dengan kasar dan kekerasan, anak tidak akan tumbuh sebagai pembelajar sejati dalam hidupnya.
Kak Seto berpendapat bahwa kunci sukses dalam mengajar adalah menciptakan suasana yang ramah. Para pendidik harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu para pendidik harus terus belajar  dan  berpikir secara kreatif dalam mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya secara menyenangkan.. jika hal ini terus menerus diasah maka anak akan tumbuh menjadi seorang pembelajar yang sejati.  Anak-anak akan memahami betul apa makna belajar, yaitu berusaha memahami, merakan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. 
*) Guru  SMP N 2 Cilongok Banyumas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar