Oleh : Endang Artiati Suhesti *)
Tak jarang kita temui para remaja putrid yang pergi ke salon untuk mempercantik diri dengan mengubah tatanan rambut. Salah satu diantaranya yang paling digemari adalah meluruskan rambut mereka. Istilah kerennya rebonding, yaitu membuat rambut mereka lurus bak boneka-boneka barbie. Bagi mereka dengan rambut yang lurus dan mudah diatur akan mempercantik penampilan mereka, maka tak heran jika mereka berani mengularkan kocek demi mendapatkan penampilan yang oke.
Sikap mereka yang mengubah penampilan diri mereka bisa dikatakan merupakan sikap ketidakpercayaan diri. Mereka merasa lebih tampil percaya diri dengan tampilan yang baru ngetrend. Tentu saja hal ini langung tidak langsung berpengaruh pada pola pikiran mereka. Ya tentu saja ikut memperngatuhi budaya mereka.
Budaya timur kita mulai tergeser dengan derasnya budaya asing yang masuk ke negara Indonesia. Banyak generasi muda yang bergaya kebarat-baratan, dari penampilan, tutur bahasa sampai pola pikir. Bagi mereka bergaya ala barat sama dengan sebutan lebih gaul, lebih keren, dan semakin bergaya modern akan menjadi lebih trendy.
Dari bahasa prokem, dandanan dan pakaian model ala artis barat, sampai pada pergaulan bebas ala barat menjadi trend di kalangan anak muda saat ini. Terlalu banyak generasi muda tercabut identitasnya. Mereka tidak tahu sejarah dan asal-usul keluarga, apalagi tentang prestasi nenek moyangnya yang membanggakan. Mereka lebih mengenal budaya shabu-shabu, pesta dengan glamour, budaya Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, Levis, dan sebagainya.
Bagi mereka sebutan “kuper”, “jadul”, “kolot” menjadi “momok” yang menakutkan, karenanya mereka berlomba-lomba mengikuti trend yang sedang ada. Semakin mereka menjadi follower trend yang pertama, mereka semakin merasa percaya diri Cerita-cerita rakyat, kidung dan petuah kuno sudah mereka ditinggalkan. Kehidupan glamour dan konsumtif lebih merasuki pola hidup anak muda zaman sekarang.
Saatnya bagi kita, para pendidik untuk mendidik ulang generasi rebonding yang pribadinya gampang berubah-ubah karena mengikuti trend. Kita harusnya malu dengan nenek moyang kita karena tidak bisa menjaga kelestarian budaya timur kita. Perlu adanya penerapan budaya milik kita di setiap sekolah-sekolah.
Misalnya pada pendidikan sejarah, seharusnya bukan menjadi pelajaran yang membosankan bagi peserta didik. Justru dari sinilah kita bisa memberikan pemahaman kepada mereka tentang budaya dan identitas banga kita. Bung Karno pernah berpidato, “jangan sekali-kali melupakan sejarah,” artinya sejarah itu sangat penting untuk diingat sebagai pemacu semangat untuk bertempur dan berjuang meraih masa depan yang lebih gemilang.
Sejarah perlu ditrasfer kepada setiap generasi penerus bangsa. Cara penyampaian dengan ekspresif dan semangat yang menyala-nyala akan menciptakan atmosfir ketertarikan pada setiap peserta didik. Buat peserta didik terhipnotis dengan sejarah, dan bawa pikiran mereka ke zaman dulu untuk ikut merasakan kembali kobaran semangat tinggi dan budaya yang menjunjung nilai-nilai luhur.
Kemasan penyampaian pendidikan sejarah dapat pula dimodifikasi dengan bentuk teaterikal siswa atau drama pendek yang mengisahkan peristiwa sejarah. Anak akan lebih menghayati dan memahami, karena mereka memerankan tokoh dalam peristiwa sejarah itu. Proses penghayatan yang terjadi dalam diri anak ini dapat berfungsi untuk membentuk kesadaran budaya dan pondasi identitas diri. Sehingga harapannya, mereka tidak lagi mencari identitas palsu dan terlena dengan budaya generasi rebonding.
*) Guru SMP Negeri 2 Cilongok, Banyumas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar