iklan

iklan aku

Jumat, 25 November 2011

Labirin Hati

Jujur saja aku sudah terlampau bosen dengan permainan labirin ini. Dua tahun sudah aku mencoba untuk mencari jalan keluar dari labirin dengki yang menyesakkan hati ini. Rasa sesak yang berada di dalam hati ini membuat gerak logikaku makin tak karuan berjalannya. Aku yakin aku masih punya setetes kekuatan untuk mengakhiri permainan yang membuatku merana ini.
Aku masih ingat dengan jelas permainan ini dimulai. Awalnya aku mengenal dengan dia. Orang melihat dia sempurna dan akupun juga mengamininnya. Namun justru karena kesempurnaan dialah membuat sebuah pohon iri tumbuh subur di dalam hatiku. Satu kesempatan telah aku dapatkan untuk menebang pohon iri dalam hatiku. Tapi tak aku duga ternyata aku hanya menebang batangnya saja. Masih ada akar pohon itu yang suatu saat bersemi dan bisa tumbuh lagi. Dan itu terjadi. Sepuluh tahun berlalu sudah dengan rasa nyaman sampai suatu saat tanpa aku sangka aku dia kembali menyapa aku.
Bagi tersambar halilintar begitu aku mengenalnya kembali karena datik berikutnya memoriku tanpa dapat aku bendung lagi berputar memainkan film lama tentang dia. Hatiku bergejolak dan membuat hatiku retak. Dan waktu bersamaan dengan retaknya hatiku itu, akar pohon iriku bertunas bersemi dan mulai tumbuh secepat kilat. Bahkan pohon itu menjelma menjadi hutan bak labirin yang menjebakkan.
Aku tak kuasa untuk menolak semua itu. aku menangis karena saat pohon itu tumbuh dengan lebatnya diriku ada di sana, diriku tak tahu harus kemana karena sekelilingku dipenuhi pohon-pohon iri yang menjulang tinggi. Aku berteriak sampai suaraku serak, tak satupun mendengarnya. Aku menangis sampai habis air mataku tak satupun mendekat.
Waktu berjalan amat lambat, setiap saat aku berusaha melangkah untuk keluar dari hutan yang seperti labirin ini . namun rasanya langkahku hanya berputar-putar tanpa pernah berujung pada jalan keluarnya. Tak lagi kudapatkan mimpi-mimpi indah. Tak kurasakan lagi senyum tulus kebahagiaan. Yang ada justru aku berada dalam selimut dendam, selimut angkara, selimut benci dan selimut bertanduk iblis yang ingin sekali menghancurkan dia.
Sebuah sinar matahari menyelinap di sela-sela rimba iri dalam hatiku. Aku menagis seketika. Aku anggap sinar itu pertanda bahwa ada jalan keluar. Aku anggap sinar itu pertanda bahwa aku harus kuat melewati ini semua. Aku anggep sinar itu sebagai kekuatan bahwa aku jangan sampai menyerah.
Ya aku mulai menyatukan kembali serpihan-serpihan kepecayaan diriku yang telah hancur. Dengan sebuah keyakinan yang masih samar aku menyusun serpihan itu pelan-pelan. Tak mudah memang tapi aku mulai yakin bahwa jika serpihan kepercayaan itu telah menyatu kan ada kekuatan maha dasyat yang bisa memporak porandakan rimba iri dalam hatiku. Aku yakin itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar