iklan

iklan aku

Kamis, 24 November 2011

Cinta Ayu

Ku baca lagi pelan-pelan untaian kalimat yang ada di email itu. Ah akumerasa bahwa tiap kalimat yang ditulis mempunyai jiwa. Entah mengapa aku bisa merasakannya seolah-olah aku adalah Ayu. Aku ikut merasakan kecemburuan Ayu dan akupun ikut merasakan betapa takutnya kehilangan sang suami. Entah mengapa pula aku ikut merasakan juga bagaimana besarnya cinta suami kepada Ayu lewat butiran-butiran kata yang ditujukan pada Ayu tercinta,
” Dari awal pernikahan ini Mas yakin bahwa kita berdua sanggup melakukan apapun itu baik suka dan duka. Apalagi dik Ayu mau hidup prihatin, sabar dan mau tabah dalam menjalani kehidupan rumah tangga kita.
Dik Ayu… cinta Mas pada dik Ayu melebihi segalanya. Yang Mas minta dari dik Ayu adalah kepercayaan dan doa restu dari dik Ayu. Mas tidak minta apa-apa dari dik Ayu, mas hanya minta dibantu untuk hidup prihatin, dibantu untuk doa dan dibantu untuk selalu tabah. Mas yakin perpisahan sementara ini aka nada hikmahnya buat kita berdua dan buah hati tercinta kita.
Dik Ayu tersayang tidak perlu ragu lagi. Sang Khalik memnag menghendaki kita untuk seperti ini terlebih dahulu. Dik Ayu bantulah Mas untuk bisa melewati ujian ini dengan berdoa, sholat dan mendekati kepada Sang Pangeran. Itu semua sudah membuat Mas lega, sudah menambah kekuatan Mas untuk hidup jauh dari Dik Ayu dan anak kita tersayang. Mas kian yakin bahwa kehidupan kita kelak akan sejahtera dan makmur. Mas semakin sayang dan cinta dengan dik Ayu karena dik Ayu mau memahami kondisi kita. “
Betapa cinta itu membutuhkan pengorbanan yang tulus dan iklhas. Betapa cinta itu membutuhkan kesabaran untuk mengalahkan ego. Betapa cinta itu lahir dari hati yang paling dalam. Betapa cinta itu bisa menjadi kekuatan hidup. Betapa cinta itu bisa mengalahkan segalanya.
Aku memang bukan Ayu, tapi tidakkah aku juga punya hak untuk mendapatkan cinta laiknya Ayu. Aku memang bukan Ayu, tapi tidakkah aku punya hak untuk memiliki kesabaran laiknya Ayu. Aku sekali lagi bukan Ayu, tapi tidakkah aku punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan cinta laiknya Ayu.
Sepenggal ungkapan perasaan itu serasa menampar pipiku untuk menyadarkan aku bahwa tidak selamanya materi bisa berkuasa atas kehidupan seseorang walaupun menjadi tujuan sebagian besar umat manusia agar mereka bisa memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera. Tapi yang menjadi intinya adalah cinta dan kepercayaan; kesabaran dan ketabahan; usaha dan doa. Malu rasanya akupada Ayu yang mempunyai kesabaran tulus. Malu rasanya aku pada Ayu yang tetap bisa menjaga kepercayaan suaminya walau jarak memisahkan mereka berdua. Malu rasanya aku pada Ayu yang tetap menjaga kehormatan suami tercintanya.
Ya Allah, aku memang bukan Ayu tapi izinkan hamba untuk memiliki sebongkah hati emas Ayu. Izinkan hamba untuk selalu mengenang Ayu sebagai guru hamba. Sadarkan hamba untuk membuka mata lewat perjalanan Ayu bahwa materi, jabatan dan kesempurnaan tubuh bukanlah hal yang perlu diperebutkan.
Ya Allah, Engkaulah Sang Penguasa atas segalanya. Engkaulah yang mengetahui segala isi hati tiap hambaMu. Lindungilah hamba dari penglihatan mata hamba yang semu ini. Amin ya robbal’alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar