Kesetiaan itu sangat tinggi derajatnya bahkan sangat mahal harganya. Apakah kesetiaan itu bisa dibeli dengan uang? Aku menjawabnya mungkin saja bisa. Aku ambil contoh seseorang akan setia dengan pendampingnya ( atau orang lain) karena segala sesuatu kebutuhannya terpenuhi. Hal yang demikian bisa dikatakan kesetiaan bersyarat. Artinya semacam ada ijab qobul, “aku setia dengan kamu karena kamu telah memenuhi segala kebutuhanku”.
Aku bilang pula kesetiaan bisa juga diperoleh tanpa uang atau tanpa membelinya. Aku melihatnya pada pasangan-pasangan hidup orang pinggiran yang tak pernah mengenal kemewahan. Justru disana terjalin kesetiaan yang tulus, tanpa syarat. Saling memberi dan saling menerima, merasa saling membutuhkan satu sama lain. Dan merasa saling menyayangi satu sama lain dengan menerima apa adanya.
Lantas mengapa kemudian kesetiaan itu bisa tenoda. Mengapa manusia mengenal ketidaksetiaan. Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada kesetiaan, ada ketidaksetiaan. Untuk itulah orang diberi kesempatan untuk terus belajar tentang hakekat kehidupan.
Tak sengaja aku memperhatikan sebuah keluarga. Aku rasa keluarga itu hidup tanpa kekurangan. Ada dua anak, suami yang bertanggungjawab, pun istri yang bertanggungjawab pula. Pasangan yang cantik dan ganteng sekaligus romantis, selalu menampilkan aura kegembiraan dan keberuntungan. Tapi baru aku tahu pada akhirnya ternyata diantara mereka ada gejolak ketidaksetiaan.
Ah begitu mudahkah seseorang terjerumus dalam ketidaksetiaan? Bukankah itu hal yang menyakitkan? Bisa saja mereka punya alasan tersendiri dan hanya mereka yang tahu apa yang terbaik untuk mereka, karena aku hanya bisa melihat dari luar saja, bukan begitu?! Tapi yang pasti aku bisa belajar dari mereka satu hal yang penting, bahwa tak semua yang terlihat sempurna itu memang benar adanya sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar