Berdiri terpaku aku di tanah lapang pagi itu. Langit mendhung tapi orang-orang tampak banyak berkerumun. Dari bayi, anak kecil, gadis-gadis perawan, dan ibu-ibu. Di tengah tanah lapang itu terlihat pula kerumunan bapak-bapak dan para pemuda desa. Pagi itu adalah hari raya Idul Adha bagi umat islam. Diseluruh dunia merayakannya dengan salah satu kegiatannya adalah memotong hewan kurban baik sapi maupun lembu. Aku sudah sekian kali menyaksikan sapi dan lembu satu persatu disembelih. Selalu ada perasaan yang sama, hati yang tersayat perih. Darah menyembur dari badannya seiring takbir yang dikumandangkan dan bilah pisau tajam yang menggorok lehernya. Astagfirullah, pemandangan ini tetap saja membuatku tak kuasa, lemah bersimpuh. Ajal datang, dan mereka tak berdaya. Tubuhnya sejenak meronta lalu berangsur-angsur diam dan terbujur lemas. Aku mendengar kenguhan panjangnya yang seakan meneriakkan “tolong”.
Aku justru sibuk dengan pikiranku. Aku tidak melihat mereka sebagai binatang, aku melihat mereka sebagai makhluk yang berjiwa. Dan manusia tidak luput dari ajal bukan. Andai saja manusia yang disembelih seperti itu. Rasanya aku ingin muntah membayangkannya, darah yang bercecer, mata yang terbelalak dan leher yang setengah putus. Astagfirullah ! Kematian pasti datang. Tak ada yang tahu pastinya. Aku sibuk menyeka air mata yang serasa akan tumpah ini. Pikiranku dipenuhi dosa-dosa yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku.Aku hanya hambaMu yang lemah, aku hanya memohon perlindunganMu semata agar hati ini tetap terjaga, agar perilaku ini tetap istiqomah di jalanMu yang lurus dan suci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar