iklan

iklan aku

Kamis, 24 November 2011

Pendidikan untuk si Sulung


Oleh : Endang Artiati Suhesti


Kata-kata adalah doa ( sebuah pepatah bijak)

Setiap kata-kata yang teruntai dari bibir orangtua sepertinya mempunyai kekuatan maha dasyat. Demikianlah sejatinya yang ingin disampaikan novel bertajuk Eliana karya Tereliye ini.Tere (sekali lagi) berhasil membius pembaca dengan menyuguhkan kisah masa kanak-kanak Eliana, si sulung yang mempunyai tiga orang adik, yaitu Pukat, Burlian, dan Amelia. Kisah yang sederhana, kalimat yang sederhana, namun semua tersusun apik dalam satu edisi. Begitu nyata. Begitu memikat.

Lewat novel ini Anda akan berkenalan dengan Eli (panggilan untuk Eliana) dari hati ke hati. Eli dibesarkan di keluarga yang secara ekonomi terbatas namun ia memiliki seorang Bapak yang sangat teguh pendiriannya, arif lagi bijasana. Enam tahun Eli mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, atapnya berlubang di sana sini dan nyaris ambrol. Tapi ia memiliki Pak Bin, seorang guru honorer yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk mendidik murid-muridnya penuh kasih sayang

Sungguh, masa kanak-kanak Eli berada di tengah-tengah kesederhanaan lagi terbatas. Tapi jika meresapi dibalik itu semua, Eli tumbuh dengan limpahan ”harta” kasih sayang, kebersamaan, kearifan alam dan sesama, serta kedisiplinan kepada Tuhannya. Itu sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak-anak generasi penerus bangsa ini agar menjadi manusia berkarakter tangguh dan berbudi pekerti luhur.

Tere ingin menggugah kesadaran Anda bahwa kasih sayang itu begitu penting dalam mendidik anak-anak. Lihat saja, Pak bin. Ia bahkan rela dan ikhlas untuk mengajar dua sampai tiga kelas sekaligus pada waktu yang bersamaan tak ada kata mengeluh yang terucap dari mulutnya. Ia begitu tegas dan disiplin dalam mendidik muridnya. Namun ia barengi dengan memberikan kasih sayang tulus pada mereka sehingga mereka tetap semangat bersekolah.

Tak hanya Pak Bin. Mamak, Bapak, Wak Yati dan Nek Kiba semuanya dengan tegas dan penuh kasih sayang mendidik Eliana. Mamak selalu mengajarkan kedisiplinan pada diri Eli. Wak Yati dengan aksen Belandanya mendidik Eli menjadi seorang yang arif dan penuh wawasan luas. Nek Kiba, seorang guru ngaji memberi pondasi keagamaan yang kuat pada Eli

Bapakpun tak berbeda jauh. Ia selalu mengajarkan dan menasehati anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan bijaksana. Tak pernah bapak marah-marah dan membentak anak-anaknya. Jika memang perlu menegur anak-anaknya, ia mengawali dengan sebuah cerita  agar anak-anaknya dapat meresapi sendiri makna didalamnya. Setelah Bapak bercerita, Bapak mengajak diskusi anaknya untuk bertukar pendapat. Disinilah anak-anak Bapak belajar untuk berani berpendapat dan mengeluarkan semua isi hatinya. Bapak dengan tenang akan mendengarkan sampai emosi anaknya terluapkan semuanya. Saat itulah Bapak akan memberi penjelasan secara logis yang bisa diterima anaknya. Jika anaknya masih menyangkal, maka Bapak berkata tegas dan tajam, dengan mimik muka tetap tenang dan penuh kasih sayang.

Ya, Bapak memang bukan lulusan dari perguruan tinggi, Bapakpun tidak mempunyai gelar. Namun ia bagitu paham bagaimana mendidik anak-anaknya. Apa yang dilakukan Bapak setidaknya bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam membimbing buah hati kesayangan Anda. Buku ini menegaskan bahwa proses pendidikan yang baik dalam keluarga akan memberi pengaruh yang besar bagi pembentukan karakter anak.Walaupun dengan kata-kata, ucapkanlah kata-kata positif pada anak-anak. Karena itu akan menjadi sumber energi sesungguhnya bagi anak Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar