iklan

iklan aku

Minggu, 27 November 2011

Bangkit

Tak sengaja aku membuka lembaran buku motivasi. Di sana aku membaca sebuah kisah batu besar.  Aku sebelumnya memang sudah membacanya,  dan sebenarnya aku sudah tahu cerita dari kisah batu besar. tapi kali itu aku merasa ada kekuatan yang menahanku untuk membacanya (sekali lagi).
Sudah saatnya aku harus memilah apa yang menjadi batu besar  yang harus aku tancapkan PERTAMA kali di dalam pikiranku. aku ingin menjadi penulis  yang terkenal sesuai dengan namaku Endang yang bermakna kondang. Ya itu adalah salah satu mimpi terbesarku. dan  berikutnya aku harus memasukkan batu-batu lain yang lebih kecil lantas kerikil dan lalu pasir juga air yang terakhir.  Aku harus melakukannya sekarang untuk diriku. aku tidak mau lagi mempeributkan tentang dia yang nyata-nyata bukan merupakan  BATU BESAR dalam hidupku. Tentang dia  ibaratkan air yang sebenarnya nomor sekalian kali untuk dipikirkan syukur-syukur tidak perlu dipikirkan. Jadi semangat ayoo.. ayoooo aku pasti bisa.. wa... e... wa... eee..oooo. wa....eee...waa... eee ... oooo, caiyooo caiyoooo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jumat, 25 November 2011

Labirin Hati

Jujur saja aku sudah terlampau bosen dengan permainan labirin ini. Dua tahun sudah aku mencoba untuk mencari jalan keluar dari labirin dengki yang menyesakkan hati ini. Rasa sesak yang berada di dalam hati ini membuat gerak logikaku makin tak karuan berjalannya. Aku yakin aku masih punya setetes kekuatan untuk mengakhiri permainan yang membuatku merana ini.
Aku masih ingat dengan jelas permainan ini dimulai. Awalnya aku mengenal dengan dia. Orang melihat dia sempurna dan akupun juga mengamininnya. Namun justru karena kesempurnaan dialah membuat sebuah pohon iri tumbuh subur di dalam hatiku. Satu kesempatan telah aku dapatkan untuk menebang pohon iri dalam hatiku. Tapi tak aku duga ternyata aku hanya menebang batangnya saja. Masih ada akar pohon itu yang suatu saat bersemi dan bisa tumbuh lagi. Dan itu terjadi. Sepuluh tahun berlalu sudah dengan rasa nyaman sampai suatu saat tanpa aku sangka aku dia kembali menyapa aku.
Bagi tersambar halilintar begitu aku mengenalnya kembali karena datik berikutnya memoriku tanpa dapat aku bendung lagi berputar memainkan film lama tentang dia. Hatiku bergejolak dan membuat hatiku retak. Dan waktu bersamaan dengan retaknya hatiku itu, akar pohon iriku bertunas bersemi dan mulai tumbuh secepat kilat. Bahkan pohon itu menjelma menjadi hutan bak labirin yang menjebakkan.
Aku tak kuasa untuk menolak semua itu. aku menangis karena saat pohon itu tumbuh dengan lebatnya diriku ada di sana, diriku tak tahu harus kemana karena sekelilingku dipenuhi pohon-pohon iri yang menjulang tinggi. Aku berteriak sampai suaraku serak, tak satupun mendengarnya. Aku menangis sampai habis air mataku tak satupun mendekat.
Waktu berjalan amat lambat, setiap saat aku berusaha melangkah untuk keluar dari hutan yang seperti labirin ini . namun rasanya langkahku hanya berputar-putar tanpa pernah berujung pada jalan keluarnya. Tak lagi kudapatkan mimpi-mimpi indah. Tak kurasakan lagi senyum tulus kebahagiaan. Yang ada justru aku berada dalam selimut dendam, selimut angkara, selimut benci dan selimut bertanduk iblis yang ingin sekali menghancurkan dia.
Sebuah sinar matahari menyelinap di sela-sela rimba iri dalam hatiku. Aku menagis seketika. Aku anggap sinar itu pertanda bahwa ada jalan keluar. Aku anggap sinar itu pertanda bahwa aku harus kuat melewati ini semua. Aku anggep sinar itu sebagai kekuatan bahwa aku jangan sampai menyerah.
Ya aku mulai menyatukan kembali serpihan-serpihan kepecayaan diriku yang telah hancur. Dengan sebuah keyakinan yang masih samar aku menyusun serpihan itu pelan-pelan. Tak mudah memang tapi aku mulai yakin bahwa jika serpihan kepercayaan itu telah menyatu kan ada kekuatan maha dasyat yang bisa memporak porandakan rimba iri dalam hatiku. Aku yakin itu

Kamis, 24 November 2011

Pendidikan untuk si Sulung


Oleh : Endang Artiati Suhesti


Kata-kata adalah doa ( sebuah pepatah bijak)

Setiap kata-kata yang teruntai dari bibir orangtua sepertinya mempunyai kekuatan maha dasyat. Demikianlah sejatinya yang ingin disampaikan novel bertajuk Eliana karya Tereliye ini.Tere (sekali lagi) berhasil membius pembaca dengan menyuguhkan kisah masa kanak-kanak Eliana, si sulung yang mempunyai tiga orang adik, yaitu Pukat, Burlian, dan Amelia. Kisah yang sederhana, kalimat yang sederhana, namun semua tersusun apik dalam satu edisi. Begitu nyata. Begitu memikat.

Lewat novel ini Anda akan berkenalan dengan Eli (panggilan untuk Eliana) dari hati ke hati. Eli dibesarkan di keluarga yang secara ekonomi terbatas namun ia memiliki seorang Bapak yang sangat teguh pendiriannya, arif lagi bijasana. Enam tahun Eli mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, atapnya berlubang di sana sini dan nyaris ambrol. Tapi ia memiliki Pak Bin, seorang guru honorer yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk mendidik murid-muridnya penuh kasih sayang

Sungguh, masa kanak-kanak Eli berada di tengah-tengah kesederhanaan lagi terbatas. Tapi jika meresapi dibalik itu semua, Eli tumbuh dengan limpahan ”harta” kasih sayang, kebersamaan, kearifan alam dan sesama, serta kedisiplinan kepada Tuhannya. Itu sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak-anak generasi penerus bangsa ini agar menjadi manusia berkarakter tangguh dan berbudi pekerti luhur.

Tere ingin menggugah kesadaran Anda bahwa kasih sayang itu begitu penting dalam mendidik anak-anak. Lihat saja, Pak bin. Ia bahkan rela dan ikhlas untuk mengajar dua sampai tiga kelas sekaligus pada waktu yang bersamaan tak ada kata mengeluh yang terucap dari mulutnya. Ia begitu tegas dan disiplin dalam mendidik muridnya. Namun ia barengi dengan memberikan kasih sayang tulus pada mereka sehingga mereka tetap semangat bersekolah.

Tak hanya Pak Bin. Mamak, Bapak, Wak Yati dan Nek Kiba semuanya dengan tegas dan penuh kasih sayang mendidik Eliana. Mamak selalu mengajarkan kedisiplinan pada diri Eli. Wak Yati dengan aksen Belandanya mendidik Eli menjadi seorang yang arif dan penuh wawasan luas. Nek Kiba, seorang guru ngaji memberi pondasi keagamaan yang kuat pada Eli

Bapakpun tak berbeda jauh. Ia selalu mengajarkan dan menasehati anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan bijaksana. Tak pernah bapak marah-marah dan membentak anak-anaknya. Jika memang perlu menegur anak-anaknya, ia mengawali dengan sebuah cerita  agar anak-anaknya dapat meresapi sendiri makna didalamnya. Setelah Bapak bercerita, Bapak mengajak diskusi anaknya untuk bertukar pendapat. Disinilah anak-anak Bapak belajar untuk berani berpendapat dan mengeluarkan semua isi hatinya. Bapak dengan tenang akan mendengarkan sampai emosi anaknya terluapkan semuanya. Saat itulah Bapak akan memberi penjelasan secara logis yang bisa diterima anaknya. Jika anaknya masih menyangkal, maka Bapak berkata tegas dan tajam, dengan mimik muka tetap tenang dan penuh kasih sayang.

Ya, Bapak memang bukan lulusan dari perguruan tinggi, Bapakpun tidak mempunyai gelar. Namun ia bagitu paham bagaimana mendidik anak-anaknya. Apa yang dilakukan Bapak setidaknya bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam membimbing buah hati kesayangan Anda. Buku ini menegaskan bahwa proses pendidikan yang baik dalam keluarga akan memberi pengaruh yang besar bagi pembentukan karakter anak.Walaupun dengan kata-kata, ucapkanlah kata-kata positif pada anak-anak. Karena itu akan menjadi sumber energi sesungguhnya bagi anak Anda.

Wanita yang Selalu Menata Hati


Itulah diriku sejak aku kuliah di kota budaya Ngayogyakarta, aku belajar satu hal yang selalu membekas dalam hati ini. Bahwa sesungguhnya hati yang nyaman dan tenang itu akan  melahirkan kekuatan yang dasyat untuk menikmati kehidupan ini.  Aku  ingat sekali dengan jelas, bagaimana  aku yang seorang diri tanpa seseorang yang ku kenal, mencoba berbaur dengan teman-teman  dari berbagai  daerah. Menyenangkan sudah tentu aku jawab iya. Karena hampir seluruh  waktuku di kota budaya itu  menjadi momen yang manis  dan tetap selalu ku kenang.  Marah sudah pasti aku juga merasakan, karena toh aku juga manusia normal yang bisa merasakan marah ketika hak aku tergadaikan atau diperlakukan tidak semena-mena,  justru di tahun-tahun terakhir saat aku  berada di kota itu aku merasakan harus berperang melawan idealisme, melawan keegoanku dan melawan logika sehatku.
Masa lalu sebenarnya sudah aku lupakan, namun ternyata memori di alam sadarku masih menyimpan dengan rapi rasa sakit yang dulu pernah ada.  Sungguh akupun tidak menduga  jika lewat teknologi yang canggih ini aku “bertemu” lagi dengan dia. Aku benar-benar tak mengira. Dengan  sekali  “bertemu” dengannya itu sudah meruntuhkan benteng  kenyamanan dalam hatiku.   Aku selalu berusaha sadar, bahwa dia tidak salah, tidak pernah salah.  Ini hanya murni kesalahanku. Aku sadar itu dan berusaha untuk selalu sadar. Tapi nyatanya  imanku tidak kuat, nyatanya aku toh manusia dengan segala kekurangan yang aku punya.  Aku tidak kuat, dan dia benar-benar menghancurkan akal sehatku yang telah aku bangun bertahun-tahun ini.  
Peristiwa satu detik “bertemu” dengan dia membuat aku  tak lagi dapat merasakan kebahagiaan hidup sebab  ingatan tentang dia justru melekat erat tanpa bisa kucongkel kembali.  Dia menyerang ke dalam seluruh relung hidupku, dia seperti menguasai diriku bahakan dia tega menghancurkan memori terindahku bersama teman-temanku. Dia menyerang dan berkuasa sempurna mengendalikan  pusat  memoriku.  Bahkan lebih dari itu, dia mulai merasukiku leat mimpi dalam tidurku yang membuat aku selalu terbangun dalam kegelisahan.
 Entah yang aku rasakan sudah tidak bisa aku definisikan lagi, aku marah aku ingin dia  hancur. Tapi detik berikutnya aku tersungkur. Aku menenangkan diri, bahwa bukan dengan cara  dendam untuk menghancurkannya tapi justru dengan mengikhlaskan tentang dia.   Aku ingin menangis  sejadi-jadinya, aku ingin dia pergi dari memoriku, aku ingin kembali mengukir senyum manis di bibirku.  Aku mohon pergilah dari ingatanku, aku punya kehidupan sendiri, aku punya kebahagiaan sendiri.
Jatuh bangun aku berusaha untuk melenyapkan dia dari ingatanku, yang terjadi justru sebaliknya, aku makin ingin “bertemu” dengan dia. Oh Tuhan rencana apa yang akan Kau berikan untuk hambaMu ini. Aku yakin pasti semua akan berakhir dengan indah dan aku yakin  Sang  Penguasa segalanya akan memberikan yang terbaik untuk aku. Karena itulah aku selalu menata hatiku setiap detik agar aku tak lagi limbung, agar aku tak terjerembab dalam ingatan tentang dia.  

Cinta Ayu

Ku baca lagi pelan-pelan untaian kalimat yang ada di email itu. Ah akumerasa bahwa tiap kalimat yang ditulis mempunyai jiwa. Entah mengapa aku bisa merasakannya seolah-olah aku adalah Ayu. Aku ikut merasakan kecemburuan Ayu dan akupun ikut merasakan betapa takutnya kehilangan sang suami. Entah mengapa pula aku ikut merasakan juga bagaimana besarnya cinta suami kepada Ayu lewat butiran-butiran kata yang ditujukan pada Ayu tercinta,
” Dari awal pernikahan ini Mas yakin bahwa kita berdua sanggup melakukan apapun itu baik suka dan duka. Apalagi dik Ayu mau hidup prihatin, sabar dan mau tabah dalam menjalani kehidupan rumah tangga kita.
Dik Ayu… cinta Mas pada dik Ayu melebihi segalanya. Yang Mas minta dari dik Ayu adalah kepercayaan dan doa restu dari dik Ayu. Mas tidak minta apa-apa dari dik Ayu, mas hanya minta dibantu untuk hidup prihatin, dibantu untuk doa dan dibantu untuk selalu tabah. Mas yakin perpisahan sementara ini aka nada hikmahnya buat kita berdua dan buah hati tercinta kita.
Dik Ayu tersayang tidak perlu ragu lagi. Sang Khalik memnag menghendaki kita untuk seperti ini terlebih dahulu. Dik Ayu bantulah Mas untuk bisa melewati ujian ini dengan berdoa, sholat dan mendekati kepada Sang Pangeran. Itu semua sudah membuat Mas lega, sudah menambah kekuatan Mas untuk hidup jauh dari Dik Ayu dan anak kita tersayang. Mas kian yakin bahwa kehidupan kita kelak akan sejahtera dan makmur. Mas semakin sayang dan cinta dengan dik Ayu karena dik Ayu mau memahami kondisi kita. “
Betapa cinta itu membutuhkan pengorbanan yang tulus dan iklhas. Betapa cinta itu membutuhkan kesabaran untuk mengalahkan ego. Betapa cinta itu lahir dari hati yang paling dalam. Betapa cinta itu bisa menjadi kekuatan hidup. Betapa cinta itu bisa mengalahkan segalanya.
Aku memang bukan Ayu, tapi tidakkah aku juga punya hak untuk mendapatkan cinta laiknya Ayu. Aku memang bukan Ayu, tapi tidakkah aku punya hak untuk memiliki kesabaran laiknya Ayu. Aku sekali lagi bukan Ayu, tapi tidakkah aku punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan cinta laiknya Ayu.
Sepenggal ungkapan perasaan itu serasa menampar pipiku untuk menyadarkan aku bahwa tidak selamanya materi bisa berkuasa atas kehidupan seseorang walaupun menjadi tujuan sebagian besar umat manusia agar mereka bisa memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera. Tapi yang menjadi intinya adalah cinta dan kepercayaan; kesabaran dan ketabahan; usaha dan doa. Malu rasanya akupada Ayu yang mempunyai kesabaran tulus. Malu rasanya aku pada Ayu yang tetap bisa menjaga kepercayaan suaminya walau jarak memisahkan mereka berdua. Malu rasanya aku pada Ayu yang tetap menjaga kehormatan suami tercintanya.
Ya Allah, aku memang bukan Ayu tapi izinkan hamba untuk memiliki sebongkah hati emas Ayu. Izinkan hamba untuk selalu mengenang Ayu sebagai guru hamba. Sadarkan hamba untuk membuka mata lewat perjalanan Ayu bahwa materi, jabatan dan kesempurnaan tubuh bukanlah hal yang perlu diperebutkan.
Ya Allah, Engkaulah Sang Penguasa atas segalanya. Engkaulah yang mengetahui segala isi hati tiap hambaMu. Lindungilah hamba dari penglihatan mata hamba yang semu ini. Amin ya robbal’alamin.

Senin, 21 November 2011

Penyakitku

Dua tahun sudah aku mengidap penyakitku yang kambuh lagi. Jatuh bangun aku mencoba rasa sakit ini. Aku tahu dan aku sadar betul apa obatnya, tetapi aku memang manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Aku serasa masih kecanduan, otakku masih saja memikirkan tentang foto itu, tentang imajinasiku pada foto itu yang justru menyeretku lebih dalam pada rasa dengki dan iri yang membuncah. Aku harus melawan dengan apa, saat aku tidak melihat foto-foto itu, hati ini terasa rindu, tapi saat melihat foto-foto itu, hati ini memanas bagai bara api. Membakar sempurna hatiku dalam rasa iri yang memuncak. Obatnya yang sudah aku lalui adalah mendekatkan diri pada sang Ilahi dan tidak memikirkan tentang foto itu, tapi nyatanya jatuh bangun aku berusaha untuk itu. aku seperti sakaw dan kecanduan pada foto-foto itu. aku ingin menangis, aku ingin menghilangkan memori tentang foto-foto itu. aku harus bisa. Saat aku bersujud, aku merasakan ketenangan hati, aku ingin terus bersujud agar pikiranku hanya tertuju pada sang pemilik sagala isi bumi ini.

Minggu, 20 November 2011

Yang Aku Mau


Jika saja aku bisa memutar waktu aku. Aku ingin kembali kepada masa lalu saat aku bertemu dengan dia.. yang aku ingin adalah tidak bertemu dan berkenalan dengan dia. Karena ternyata dia membuat aku luka. Aku memang tidak secantik dia dan aku memang tidak sepintar dia. Aku juga tidak mempunyai body seseksi dia. Justru karena aku mengenal dia aku mengerti bagaimana rasanya sakit dan iri hati. Justru karena aku mengenal dia aku mengeri tentang keadilan Allah SWT.
Dia memang cantik bahkan hatinya pun seperti kecantikan tubuhnya. Dia memang pintar bahkan pintarnya dia sesukses kehidupannya. Dia bahagia bahkan kebahagiaan dia seberuntung kehidupannya dalam mengarungi kapal bahtera rumahtangganya.
Aku mengerti itu semua, aku menikmati rasa iri yang menusuk nusuk dalam hatiku.  Dan aku  ingat  kata ustad Jesfry yang mengatakan,”gunakan segala peristiwa yang terjadi pada diri kita  untuk mendambah kedekatan kita pada Ilahi” ya aku tahu aku sedang mengalami keterpurukan hati.  Kau kembali  untuk menamparku  sekaligus untuk memberiku kesadaran tentang hakikat kehidupan sebenarnya

Ketika Hati Retak

Perceraian pada sejumlah selebritis masih kerap terjadi. Belum lama ini khalayak dikejutkan lagi kasus perceraian yang melanda mahligai rumah tangga Krisdayanti dan Anang Hermansyah.

Tak dinyana memang, bahtera rumah tangga yang telah dibangun lebih dari 12 tahun ini pupus sudah dan tidak dapat diselamatkan kembali. Banyak pihak yang menyayangkan perceraian pasangan Kridayanti dan Anang ini yang sejatinya kerap disebut-sebut sebagai pasangan yang selalu romantis. Ibunda Krisdayanti dikabarkan media, menangis atas keputusan yang diambil anak perempuannya itu.
Fenomena tentang maraknya perceraian ini membuat aku merenung. Ada apa sebenarnya dengan psikologi orang-orang yang harusnya bagi aku sudah matang dan sudah dewasa. Apa yang sebenarya mereka cari. Jujur sejujur-jujurnya, aku sempat terhenyak dengan perceraian Kridayanti dan Anang. Aku sebenarnya tidak begitu mempedulikan, tetapi pasangan KD dan Anang ini memamng dalam benak aku adalah pasangan hidup yang bisa aku jadikan contoh. Kembali ke masa silam, aku melihat mereka adalah keluarga yang sudah lebih dari keluarga berkecukupan. Penghasilan, jelas ada, dua orang anak sudah pula dikarunia, anak cowok dan cewek, pas banget dengan slogan KB yang ada selama ini. Material tentunya sudah lebih dari cukup, lalu why! Kenapa mereka bercerai???
Mungkin aku terlalu rese banget memikirkan perceraian mereka. Tetapi sekali lagi aku sudah katakan bahwa mereka dulunya adalah pasangan menjadi tauladanku. Anang dalam penglihatanku sanagt mencintai seorang KD, pun sebaliknya KD sangat mencintai seorang Anang. Bagi aku sangat bersyukur sekali, ada seorang pria yang mencintai kita, mencintai setulusnya. Oh Tuhan apa sebenarnya yang sedang terjadi pada mereka???
Sejenak ketakutan menyeruak dalam hatiku, jika aku yang kemudian dihadapkan pada perceraian. Oh Tuhan... aku jelas-jelas tidak ingin menorehkan lumpur hitam perceraian dalam rekam jejak hidup aku. Tidak ingin, betul-betul tidak ingin Tuhan. Aku begitu ketakutan, sangat ketakutan karena bagi aku perceraian adalah sebuah jalan yang betul-betul aku hindari.
Perceraian akan membuat semuanya dirugikan, anak terutama, ia akan kehilangan keutuhan keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman buat mereka. Sanak saudara yang juga akan menanggung kesedihan karena tali kasih persaudaraan yang telah diikatkan putus. Dan yang pasti aku percayai, perceraian adalah jalan yang dibenci Allah SWT.
Apakah seorang Krisdayanti telah merasakan luka batin yang amat sangat sebagaimana dirasakan para istri yang terkoyak hatinya atas perlakuan suaminya sendiri. Begitu banyak kasus-kasus yang diberitakan di media yang membuat aku merinding. Ketika seorang suami menyiram bensin ditubuh istrinya sendiri, ketika seorang suami membakar hidup-hidup istrinya sediri yang dicintai, ketika pukulan, hantaman, hinaan, caci maki didaratkan pada istrinya sendiri. Aku ikut merasakan pasti begitu sakitnya hati seorang istri. Mereka yang menjadi kaum hawa, mereka yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menemani hidup sang Adam tetapi perlakuan yang didapatkan sangat membuat pedih.
Akankah kemudian mereka akan bercerai, dan mengatakan “Cukup sudah! Aku tidak bahagia hidup denganmu, hati ini terlalu pedih, luka yang sudah bernanah !”. Akhirnya mereka harus memisahkan diri. Oh Tuhan. Aku takut Tuhan, aku takut jika hati ini luka, aku takut jika hati ini retak dan tiga kata terucap dari bibir mungilku, “Ceraikan aku Mas.”